backgroud
logo

Buletin

 

Arifin Ilham dan Mengenal Kanker Nasofaring yang Dideritanya

Arifin Ilham dan Mengenal Kanker Nasofaring yang Dideritanya

 
Arifin Ilham dan Mengenal Kanker Nasofaring yang Dideritanya
Ustadz Arifin Ilham didampingi 3 istrinya saat dijenguk Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (7/1). (Dok :Alvin Aziz)
WJtoday
Selasa, 8 Januari 2019 | 15:07 WIB
WJtoday, Bandung - Setelah sempat dikabarkan sembuh dari kanker nasofaring dan getah bening stadium 4A. Ustaz Arifin Ilham kembali harus dirawat di rumah sakit. Kabar tersebut diketahui dari dua foto unggahan Instagram putranya Muhamad Alvin Aziz yang meminta doa untuk kesembuhan ayahnya.

Foto pertama Alvin mengungah sang ayah saat di rumah sakit ketika sedang dijenguk Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.Sedangkan foto kedua menunjukkan kebersamaan dengan sang ayah bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dari postingan tersebut, wajah Ustaz Arifin Ilham masih terlihat pucat.

Pihak keluarga juga membantah kabar yang menyebutkan Ustaz Arifin Ilham sudah meninggal dunia. Seperti yang disampaikan oleh Abah Raodi Bahar, Selasa (8/1/2019) melalui WhatsApp, mewakili keluarga besar.

"Mohon doanya agar beliau diberikan keridhoan dan kesabaran dengan penyakit yang dideritanya dengan membacakan Suratul Fatihal,di setiap majelis taklim dan mesjid.Semoga Allah SWT segera sembuhkan penyakitnya," tulis Abah Raodi Bahar.

Bulan Desember 2018, Ustaz Arifin Ilham harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Kanker nasofaring dan kanker kelenjar getah bening yang ia derita sudah mencapai stadium 4 waktu itu. Kedua kanker tersebut sama-sama berkembang di daerah leher.

Ustadz Arifin Ilham bersama putranya Alvin Aziz, saat dijenguk Gubernur DKI Anies Basewedan (foto: dok alvin aziz)

Apa itu kanker nasofaring yang diderita Ustaz Arifin Ilham?
Kanker hidung atau juga disebut kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa benjolan pada tenggorokan, penglihatan kabur, hingga kesulitan membuka mulut.

Untuk mendiagnosis kanker nasofaring secara dini sangatlah sulit, karena tumor ini baru menimbulkan gejala pada stadium-stadium akhir. Gejala-gejala pada stadium awal penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit lainnya.

Selain itu, letak dari tumor tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di dasar tengkorak, sukar sekali dilihat jika bukan dengan ahlinya. Presentase untuk bertahan hidup dalam 5 tahun juga terlihat mencolok, hal ini dilihat dari stadium I (76%), stadium II (50%), stadium III (38%) dan stadium lanjut atau IV (16,4%).

Penyebab Kanker Nasofaring
Penyebab kanker nasofaring masih belum dapat diketahui dengan pasti dan merupakan multifaktor, seperti virus Epstein-Barr (VEB), genetik, diet, lingkungan, dan kebiasaan merokok. Virus Epstein-Bar ini juga terdapat pada penyakit lain yang bukan kanker.

Tapi sudah hampir dipastikan bahwa penyebab dari kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar antivirus untuk virus Epstein Barr didapatkan cukup tinggi.

Penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki walaupun alasannya belum dapat dibuktikan hingga saat ini. Hal lain yang memengaruhi adalah faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet, masakan yang terlalu panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan seperti orang Eskimo yang mengawetkan ikannya dengan menggunakan nitrosamine.

Pengobatan Kanker Nasofaring
Terdapat berbagai cara mengobati kanker nasofaring antara lain: radioterapi, operasi dan kemoterapi. Radioterapi merupakan terapi paling efektif, setiap pasien yang pada waktu diagnosis belum menunjukkan metastasis multipel harus terlebih dulu menerima radioterapi, atau radioterapi plus kemoterapi.

Bila lesi relatif terbatas, tanpa penyebaran ke klavikula ke bawah, metastasis ke kelenjar limfe servikal kurang dari 8 cm, dapat dilakukan radioterapi radikal. Bila terdapat satu metastasis jauh atau kelenjar limfe servikal lebih besar dari 8 cm dapat dilakukan radioterapi paliatif.

Karena umumnya kanker nasofaring adalah karsinoma sel skuamosa diferensiasi buruk atau tidak berdiferensiasi, derajat keganasan tinggi, cepat pertumbuhannya, maka sering kali lebih peka terhadap kemoterapi dibandingkan karsinoma sefaloservikal lain.

Apakah kanker nasofaring menular dan bagaimana pencegahannya?
Sebenarnya, tidak ada jenis kanker apa pun yang menular. Pasalnya, penyakit ini terjadi akibat adanya gangguan pertumbuhan pada sel dan akhirnya mengubah sel menjadi sel kanker.  Jadi, hal ini terjadinya di dalam tubuh dan tidak ada yang bisa membuatnya menjadi menular ke orang lain layaknya penyakit infeksi.

Infeksi Epstein-Barr virus (EBV) sudah terbukti dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. EBV sendiri adalah jenis virus yang paling umum dan tersebar di mana pun. Sebagian besar dari Anda mungkin pernah mengalami infeksi virus ini tanpa disadari. Pasalnya, ketika virus ini masuk, tidak akan langsung aktif dan menimbulkan gejala.

Penyebaran EBV yang paling utama adalah melalui pertukaran cairan tubuh, terutama air liur. Maka itu, Anda bisa tertular EBV jika menggunakan barang-barang pribadi dengan orang yang memiliki EBV, seperti sikat gigi, minum di gelas yang sama, berbagi sedotan, menggunakan piring dan alat makan yang sama (tanpa dicuci terlebih dulu). Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalu ciuman, hubungan seksual, transfusi darah, dan transplantasi organ.

Hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah virus ini menyerang Anda adalah dengan tidak saling pinjam barang pribadi apa pun dengan orang lain, apalagi yang tak Anda kenal. Hindari juga berciuman dan berhubungan seks dengan orang yang tak Anda tahu riwayat kesehatannya. ***

WJT / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya