backgroud
logo

Trensosial

 

Provokasi People Power di FB, Dosen PTS Bandung Terancam Bui

Provokasi People Power di FB, Dosen PTS Bandung Terancam Bui

 
Provokasi People Power di FB, Dosen PTS Bandung Terancam Bui
Solatun Dulah Sayuti (56), seorang dosen sebuahPTS di Kota Bandung terancam bui. (sindonews)
WJtoday
Sabtu, 11 Mei 2019 | 02:35 WIB
WJtoday, Bandung - Solatun Dulah Sayuti (56), seorang dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung, terancam hukuman 10 tahun penjara lantaran mengunggah kalimat bernada ujaran kebencian dan provokasi terkait aksi people power di media sosial Facebook.
  
Tersangka Solatun diamankan pada Kamis 9/5/2019 di rumahnya, Margahayu Raya, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung oleh angggota Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Diteskrimsus) Polda Jabar.

Direktur Reskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Samudi mengatakan, di akun Facebook, tersangka Solatun mengunggah kalimat bernada ujaran kebencian dan provokasi. Unggahan itu menuai 68 komentar dan 10 kali dibagikan kembali di akun Facebook sehingga berdampak potensi konflik dan bermuatan provokatif. 

Samudi menyatakan, unggahan tersangka Solatun di Facebook mengandung unsur ujaran kebencian dan provokasi yang dapat memicu keonaran di masyarakat. 

"Pelaku ini melakukan ujaran kebencian dan menghasut yang dapat membuat keonaran," kata Samudi di Gedung Ditreskrimsus Polda Jabar, Jumat (10/5/2019).


Dari hasil penyelidikan, ujar Samudi, tersangka mendapatkan info people power dari Grup WhatsApp 'PejuangPersatuanIndonesia' yang diikuti pelaku. 

"Jadi pelaku ini ikut grup WA 'PerjuanganPersatuanIndonesia'. Tersangka menyampaikan narasi imbauan berupa posting status di Facebook dengan akses terbuka. Status tersangka dapat dilihat oleh seluruh pengguna akun media sosial Facebook," ujar Samudi.

Samudi menuturkan, perbuatan tersangka Solatun melanggar Pasal 14 ayat (1) KUHP dan Pasal 15 UU Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. 

"Kami tidak menjerat tersangka dengan pasal UU ITE. Tersangka terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara. Kami menyita barang bukti satu unit telepon seluler (ponsel) merek Xiaomi," jelas Samudi.

Pengakuan Sang Dosen

Tersangka Solatun Dulah Sayuti (56) tak menyangka unggahan status di media sosial Facebook memaksanya berurusan dengan polisi dan terancam hukuman 10 tahun penjara. Solatun beralasan hanya iseng memposting status tentang people power yang dianggap polisi mengandung unsur ujaran kebencian dan memprovokasi masyarakat.

Saat ekspose di Gedung Ditreskrimsus Polda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Jumat (10/5/2019), tersangka Solatun beralasan unggahan itu justru bertujuan mengingatkan agar tak terjadi aksi people power. 


"Jadi tujuannya mengingatkan agar tidak terjadi people power. Namun kontennya saya akui beda dari maksud tujuan saya. Saya khawatir dan takut polisi bentrok sama rakyat. Jangan sampai ini terjadi. Nggak mungkin saya membiarkan membenturkan people power," kata Solatun.

Solatun mengemukakan, info tentang bakal ada aksi people power didapat dari dua tulisan di grup WhatsApp 'PejuangPersatuanIndonesia'.

"Ada videonya juga. Saya tidak merasa melakukan apa pun, tapi saya siap dengan hukuman apa pun. Ini kesalahan saya. Saya mengaku salah dalam hal ini dan meminta maaf," ujar tersangka.

Dosen pascasarjana sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung ini mengaku tak bermaksud memprovokasi adu domba di medsos. 

"Saya kalau ngajar selalu minta mahasiswa saya cek dan ricek di medsos. Saya tidak melakukan itu," tutur Solatun. 

Dirreskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Samudi menyatakan, motif pelaku mengunggah status provokatif di Facebook karena iseng. 

"Pengakuannya iseng aja. Namun kami akan dalami," tutur Samudi.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengimbau masyarakat untuk tidak percaya terhadap, informasi sesat atau hoaks dan  ujaran kebencian yang marak beredar di media sosial. 

"Warga Jabar harus menghindari hoaks, ujaran kebencian, dan sebagainya. Gunakanlah gadget dengan baik dan bijak. Jangan termakan isu," tegas Truno. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya