backgroud
logo

Inspirasi

 

Kerusuhan 21-22 Mei, Prabowo Lepas Kendali

Kerusuhan 21-22 Mei, Prabowo Lepas Kendali

 
Kerusuhan 21-22 Mei, Prabowo Lepas Kendali
Kerusuhan 21-22 Mei Warisan Buram Wajah Politik Pasca Reformasi. (Antara)
WJtoday
Jumat, 24 Mei 2019 | 05:03 WIB


Kemarin saya hadir sebentar di tengah lautan massa yang demo di depan Bawaslu. Sore itu keadaan tidak ada yang luar biasa. Massa lebih banyak bersorak mengikuti irama para orator yang berbicara di atas kendaraan komando. Ketika buka puasa saya langsung ke Sari Pacific untuk makan malam dengan tamu dari luar negeri. Pada waktu makan malam itu, saya perhatikan orang santai saja menikmati buffet buka puasa. Tidak ada suasana mencekam. Karenanya sehabis buka puasa, saya langsung pulang ke rumah. Namun sampai di rumah nonton TV , meliat ada kerusuhan di sepanjang jalan Wahid Hasyim, dan kemudian ke Petamburan Tanah Abang. Dari berita saya tahu kalau Asrama Brimob di bakar termasuk kendaraan yang di parkir. Belum lagi kendaraan pribadi yang dibakar massa.

Hari ini keadaan rusuh terus berlangsung. Tapi kalau saya perhatikan, ini bukan demontrasi ala demokrasi. Tetapi sudah murni tindakan kriminal yang sudah direncanakan secara sistematis dengan memanfaatkan momentum aksi demo menuntut kecurangan Pemilu dari kubu paslon 02. Cara mereka beraksi tidak ubahnya dengan seperti kasus 1998, dimana berusaha memprovokasi masyarakat lewat pembakaran dan kerusuhan. Tujuannya agar kerusuhan itu melebar dan meluas sampai tidak bisa lagi dikendalikan. Namun mereka lupa bahwa sekarang ini berbeda dengan tahun 1998. Saat ini TNI/POLRI sangat kompak. Elite politik sangat kompak. Tidak ada agenda politik selain menjaga stabilitas politik paska Pemilu dan melanjutkan pemerintahan yang terilih secara legitimasi lewat pemilu langsung.

Polisi mengatakan dalam jumpa pers bahwa kerusuhan ini by design. Seperti apa design nya ? kita harus paham dulu struktur chaos yang akan dibangun. Ada tiga unsur yang menjadi dasar mendesain chaos itu. Unsur pertama, adalah kelompok voter dari Prabowo-Sandi yang tidak puas atas hasil Pilpres 2019. Soal ini Prabowo tak henti membakar massa nya dengan retorika yang membomdis seakan dia dicurangi dan dizolimi oleh rezim. Bahkan Prabowo sampai mengeluarkan pernyataan akan mengeluarkan surat wasiat segala. Para voter yang ada di kantong Dapil nya tentu bangkit semangat untuk membelanya. Ini mencakup daerah sumatera Barat Sumatera Utara, Jawa Barat, Banten.

Unsur kedua adalah kelompok radikal yang ingin memanfaatkan suana keruh ini untuk menyerang aparat. Dan ini sudah menjadi dendam lama, yang sampai sekarang belum dituntaskan. Unsur ketiga, adalah kelompok inti yang memang di latih dan dipilih secara selektif serta dibiayai untuk melakukan kerusuhan. Ketiga unsur ini di desain bergerak secara bergelombang. Tentu gelombang pertama adalah para voter. Apabila voter berhasil menggetarkan pertahanan TNI/POLRI maka unsur kedua akan masuk melakukan tekanan langsung ke TNI/POLRI. Bila keadaan tidak lagi bisa dikendalikan maka unsur ketiga akan masuk melalui serangan frontal milik publik. Biasanya kendaraan dibakar. Bila ini terlaksana, maka gedung akan dibakar. Kemudian berlanjut rumah penduduk di daerah elite akan dibakar. Maka chaos meluas dan harganya adalah jatuhnya rezim.

Namun desain kerusuhan itu sudah dibaca lebih dulu oleh aparat inteligent dari TNi/POLRI. Sebelum aksi dilaksanakan, petinggi partai yang punya basis massa seperti PAN, PKS, PD sudah berhasil diyakinkan akan keadaan ini. Mereka setuju untuk menahan diri dan memerintahkan kadernya agar tidak terlibat dalam aksi 22 Mei. Makanya tidak sulit bagi POLRI untuk menahan para voter untuk tidak datang ke Jakarta. Kalaupun akhirnya aksi dilakukan juga, jumlah para voter yang hadir tidak terlampau kuat untuk memberi peluang besar bagi kelompok kedua dan ketiga menimbulkan chaos secara nasional dan berdampak international. Sementara bagi Polri jelas yang dihadapinya bukanlah rakyat yang sedang melaksanakan hak demokrasinya, tetapi mereka adalah gerombolan kriminal yang ingin menciptakan chaos. Ini murni kriminal dan tidak perlu ada empati seperti yang dilakukan Anies dengan memberikan karangan bunga bagi pelaku kerusuhan yang jadi korban.

Saya yakin setelah kurusuhan ini , bukan hanya ratusan provokator yang ditangkap polisi tetapi beberapa tokoh dibalik kerusuhan ini akan ditangkap juga. Keadaan ini akan dijadikan momentum bagi aparat untuk menangkapi mereka yang selama ini untouchable. Inilah harga yang harus dibayar. Seandainya dari awal Prabowo sadar dengan laporan intelijen bahwa akan ada kerusuhan yang akan dilancarkan by design, tentu kerusuhan ini tidak perlu terjadi. Karena dia bisa memerintahkan massa nya untuk tidak melakukan aksi demo, dan patuh mengikuti proses hukum lewat MK. Tetapi semua sudah terlambat. Polisi bisa mengendalikan situasi tapi Prabowo tidak lagi bisa mengendalikan massa nya. Apapun alasannya sejarah mencatat bahwa Prabowo bersama BPN tidak punya mental patriot, apalagi negarawan. Mereka telah memberikan warisan politik yang sangat tidak elok bagi generasi yang akan datang.

***

Peran Pers
Teman saya dari luar negeri berkata kepada saya lewat telepon international bahwa kerusuhan yang terjadi di Indonesia kemarin, benar benar menjadi tontonan yang menarik. Mengapa ? dunia bisa tahu bagaimana perlakuan aparat keamanan terhadap aksi demontrasi. Di awali dengan memberikan ruang kepada massa untuk menyampaikan haknya di depan umum lewat aksi demontrasi.Keadaan berlangsung dengan sangat tertib. Dunia tahu itu. Semua media massa menyiarkan aksi demontrasi secara “ live”. Ada puluhan media massa dalam dan luar negeri melipuat aksi demo itu. Kemudian sesuai jadwal yang ditetapkan oleh UU, aksi demo dapat dibubarkan dengan tertib. Ini credit point bagi aparat keamanan.

Namun setelah demontrasi bubar dan berakhir sesuai UU, datanglah aksi susulan dengan cara yang brutal dan menyerang aparat. Media massa meliput aksi itu terus menerus dari menit ke menit. Orang bisa lihat bagaimana SOP mengantisipasi kerusuhan dilakukan dengan sangat disiplin oleh aparat keamanan. Tidak ada serangan dari aparat sebelum dilakukan langkah persuasi seperti negosiasi. Himbauan agar mereka membubarkan diri. Media massa juga menjadi saksi bahwa aparat keamanan tidak dilengkapi dengan senjata tajam. Mereka hanya dilengkapi alat standar seperti tameng pelindung dari serangan massa, pentungan rotan dan senjata pelontar granat gas air mata dan peluru karet. Setiap gerakan aparat keamanan diikuti oleh para awak media massa. Mereka sama sama berada di garis belakang pertahanan.

Dalam situasi kerusuhan yang melakukan pembakaran dan penrusakan itu, apapun bisa terjadi. Aksi di balik aksi bisa saja terjadi. Penumpang gelap yang menggunakan cara kotor menembak para perusuh dengan tujuan memprovokasi massa, sangat mungkin terjadi. Dan itu sudah diperingatkan oleh aparat keamanan sebelum demo berlangsung. Diharapkan agar niat melakukan demo di hentikan dan lebih fokus kepada aksi konsitutional lewat Mahkamah Konstitusi. Namun kubu No. 02 tidak memperdulikan himbauan dari aparat keamanan. Bahkan terus membakar emosi massa agar tidak ragu melakukan aksi demontrasi dalam bentuk people power. Maka yang terjadi, terjadilah.

Kalau kini, kubu 02 mengatakan bahwa aparat keamanan telah melakukan pelanggaran HAM terhadap pelaku demontrasi, saya rasa itu tidak tepat. Mengapa ? menjaga keamanan terhadap aksi demontrasi yang sedang berlangsung adalah tanggung jawab HAM aparat ke pada masyarakat. Karena kalau sampai aksi demontrasi sampai berujung chaos maka korban kemanusiaan akan lebih besar terjadi. Dan ini yang kena korban bukan hanya pelaku kerusuhan tetapi juga rakyat lain yang engga ikut kerusuhan. Korban akan lebih besar sampai berujung kepada perang sipil seperti yang terjadi di Suriah. Saran saya berhentilah memberikan pernyataan yang bias, yang bisa memprovokasi masyarakat. Engga ada gunanya. Karena publik bisa melihat proses antisipasi demontrasi itu secara “ live “

Semoga semua pendukung 02 mendengar seruan dari Prabowo agar mereka tidak lagi melakukan demontrasi dan fokus kepada upaya perlawanan lewat MK. Apapun hasilnya , terimalah. Andaikan 02 tidak bisa memenangkan gugagatannya di MK, maka mari kita sambut Jokowi - Ma’ruf Amin sebagai pemimpin kita. Setelah keputusan MK keluar, tidak ada lagi kubu 01 dan 02, semua rakyat Indonesia. Jokowi presiden bagi semua. " Sekali lagi terimakasih media massa yang telah menjadi saksi sejarah bagaimana Indonesia berjuang membela demokrasi dengan cara yang benar. Bravo TNI/POLRI" kata teman saya.***

Erizeli Bandoro (Penulis,Cerpenis dan Blogger)

WJT / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya