backgroud
logo

Inspirasi

 

Disdik Jabar Gelar Simulasi PPDB Guna Memastikan Kesiapan

Disdik Jabar Gelar Simulasi PPDB Guna Memastikan Kesiapan

 
Disdik Jabar Gelar Simulasi PPDB Guna Memastikan Kesiapan
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat Dewi Sartika. (humas.jabarprov.go.id)
WJtoday
Jumat, 14 Juni 2019 | 06:56 WIB
WJtoday, Bandung - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menggelar simulasi pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMA Negeri 2 Bandung. Simulasi tersebut bertujuan untuk mempraktikkan Prosedur Operasional Standar (POS) PPDB kepada Disdik Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. 

Kepala Disdik Jabar Dewi Sartika mengatakan, nantinya Kepala Disdik tingkat Kabupaten/Kota wajib mengedukasi seluruh Kepala Sekolah di wilayahya untuk menjalankan PPBD sesuai dengan POS dan regulasi yang telah ditetapkan.

“Target dari simulasi ini adalah memberikan informasi, terutama adalah praktik situasi lapangan terkait dengan peningkatan pemahaman untuk alur pendaftaran pada saat PPDB,” katanya. 

“Simulasi ini bisa menjadi model dan bisa dilihat oleh Kepala Sekolah dan Kepala Disdik tingkat Kabupaten/Kota, supaya ini bisa ditularkan ke sekolah-sekolah yang lain,” lanjutnya.

Dalam simulasi tersebut, Dewi Sartika berperan sebagai orang tua siswa. Ada beberapa tahap yang dia lakukan sampai pendaftaran selesai. Pertama, mengambil nomor antrean untuk pengecekan berkas-berkas. Nantinya, ada petugas PPDB dari sekolah bersangkutan memeriksa dan memastikan semua persyaratan ada dalam berkas.  

Setelah itu, orang tua siswa dan petugas PPDB akan menentukan titik koordinat atau jarak rumah ke sekolah bersangkutan. Jika titik koordinat telah ditentukan, orang tua siswa dan petugas wajib membuat kesepakatan lebih dulu sebelum memasukkan data pendaftaran ke dalam sistem.

Kemudian, orang tua siswa kembali mengambil nomor antrean untuk memasukkan data secara online. Orang tua siswa selanjutnya memilih jalur mana yang akan ditempuh --jalur zonasi, jalur prestasi, atau jalur perpindahan. 

Jika orang tua siswa sudah selesai mengisi data secara online, mereka akan diberi bukti pendaftaran. Setelah itu, orang tua siswa tinggal menunggu hasil PPDB pada 29 Juni 2019. Mesti digarisbawahi, setiap jalur mempunyai syarat dan ketentuan, serta persentase penerimaan yang berbeda-beda.

“Persentase jalur zonasi itu 90 persen. Dari 90 persen itu, 20 persennya untuk jalur KETM, 15 persen untuk jalur zonasi kombinasi yang menggabungkan jarak dan hasil UN. Jadi, 55 persennya jalur zonasi murni. Sisanya, 5 persen jalur prestasi dan 5 persen jalur perpindahan,” kata Dewi Sartika.  

Dewi Sartika memastikan pihaknya sudah menyiapkan PPDB dengan sebaik-baiknya, mulai dari kesiapan Sumber Daya Manusia sampai sarana. Namun, dia tak menampik bahwa ada kendala yang mesti diselesaikan, yakni pemahaman orang tua siswa terkait PPDB itu sendiri.

“Seluruh Kabupaten/Kota saya rasa sudah melaksanakan persiapan-persiapan peningkatan dari kemampuan SDM itu sendiri, sarana prasana, peraturan-peraturan dalam hal ini memberikan pemahaman kepada seluruh orang tua siswa,” katanya. 

“Kendala terutama adalah tingkat pemahaman dari orang tua itu sendiri. Secara masif kita menggunakan segala upaya melalui media massa, media online, melalui media-media lain termasuk bertatap muka.” terangnya.


Pertimbangan Jitu Kunci Kelolosan PPDB 

Menurut Dewi Sartika, hal terpenting yang mesti dipertimbangkan orang tua siswa adalah jarak domisili ke sekolah yang diinginkan. Karena, lanjut dia, jarak tersebut menjadi kunci utama kelolosan siswa, setelah itu baru hasil Ujian Nasional (UN). 

“Kalau nilainya sama, kemudian nanti yang dilihat siapa yang daftar paling dahulu, tapi persoalan bukan itu. Persoalan itu kemungkinan terjadi sangat kecil,” ucap Dewi Sartika di SMA Negeri 2 Bandung, Rabu (12/6/2019).

“Yang paling penting itu orang tua harus paham sekolah mana yang paling dekat dengan domisili. Yang kedua, harus paham nilai anak itu berapa. Baru kalau nilai anak bagus, boleh milih jalur kombinasi ataupun prestasi. Itu paling penting,” lanjutnya.  

Dewi Sartika pun menyatakan bahwa Disdik Jabar tidak bisa memuaskan semua pihak. Karena dalam PPDB edisi ini, hanya 34 sampai 40 persen lulusan SMP di Jawa Barat yang bisa masuk SMA Negeri.

Meski demikian, Dewi Sartika meminta orang tua siswa tidak perlu risau. Dia menyarankan kepada orang tua yang siswanya tidak lolos untuk beralih ke SMA swasta. Apalagi, kualitas dan sarana prasarana SMA swasta di Jawa Barat tidak kalah dari SMA Negeri.  

“Bagaimanapun PPDB sebuah sistem untuk mengantisipasi karena tidak bisa memuaskan semua pihak. Dar 774 ribu lulusan SMP, itu yang diterima di negeri sekisar 34 persen, maksimal 39 sampai 40 persen,” ucapnya.

“Mudah-mudahan orang tua bisa legawa ketika anaknya tidak bisa diterima di negeri, bisa masuk ke sekolah swasta. Semua anak bisa sekolah, semua bisa juara,” tambahnya.  

Pun demikian imbauan kepada orang tua siswa yang mengambil jalur zonasi Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM) untuk tetap tenang ketika tidak lolos ke SMA Negeri. Menurut Dewi Sartika, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) untuk mewajibkan SMA Swasta menerima siswa KETM dengan persentase sebesar 20 persen.

“Kita sudah bekerja sama dengan Badan Musyawarah Perguruan Swasta, mereka mempunyai kewajiban menerima siswa dari KETM. Dan itu 20 persen. Mereka harus gratis di swasta,” tutupnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya