backgroud
logo

Buletin

 

Kasus Dugaan Korupsi BBM, Kejari Tahan 3 Pejabat UPT Kebersihan KBB

Kasus Dugaan Korupsi BBM, Kejari Tahan 3 Pejabat UPT Kebersihan KBB

 
Kasus Dugaan Korupsi BBM, Kejari Tahan 3 Pejabat UPT Kebersihan KBB
Kasus Dugaan Korupsi BBM, Kejari Tahan 3 Pejabat UPT Kebersihan KBB , 19/7/2019. (detik.com)
WJtoday
Jumat, 19 Juli 2019 | 20:58 WIB
WJtoday, Bandung Barat - Kejaksaan Negeri Bale Bandung resmi menahan tiga pejabat UPT Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat dalam kasus dugaan korupsi.

Ketiganya adalah Kepala UPT Kebersihan Apit Akhmad, Kabag TU UPT Kebersihan Adang Rahmat dan Bendahara Pengeluaran Pembantu UPT Kebersihan Abdurahman Nuryadin.

Kasus ini bermula pada tahun 2016 lalu. Saat itu terdapat anggaran belanja di UPT Kebersihan Bandung Barat sebesar Rp 4.383.775.000 untuk BBM dan untuk perawatan kendaraan bermotor sebesar Rp 1.483.270.000. Pelaksana tugas kegiatan tersebut adalah ketiganya.

Mereka telah mencairkan keseluruhan anggaran tersebut. Namun pada kenyataannya sebagian digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya, dengan cara seolah-olah telah diberikan kepada pengemudi atau sopir pengangkut sampah dengan ritase yang telah digelembungkan dan telah membuat SPJ berdasarkan bukti-bukti pembelian dipalsukan. Sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara senilai kurang lebih Rp 1.748.950.150.

Kasi Pidsus Kejari Bale Bandung Deddy Rasyid mengatakan, ketiganya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah dilakukan penahanan.

"Hari ini kita telah melakukan pemeriksaan terhadap tiga tersangka, sekaligus kita lakukan upaya penahanan," kata Deddy, Jumat (19/7/2019).


Ia mengungkapkan, perkara yang menjerat ketiganya tindak pidana korupsi. "Perkara yang disangkakan tindakan pidana korupsi dalam penyelewengan anggaran BBM dan peralatan kendaraan bermotor di UPT Kebersihan Bandung Barat tahun anggaran 2016," katanya.

"Kerugian negara yang sudah ditemukan sekitar Rp 1,8 miliar kurang lebih. Mereka langsung dilakukan penyidikan, siapa tahu kita menemukan bedanya kerugian lebih daripada itu," ucap Deddy.

Ketiganya dijerat dengan UU No 31 tahun 1999 tentang tindakan pidana korupsi Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 9.

Sementara itu Kasi Intelijen Kejari Bale Bandung Teuku Syahroni berujar, tersangka bukan tidak mungkin akan bertambah. "Proses penyidikan berjalan, tidak menutup kemungkinan apabila nanti ditemukan ada pihak atau orang yang harus bertanggungjawab lagi. Kami tidak menutup kemungkinan akan menambah tersangka dalam perkara ini," ujarnya.

Tanggapan Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan
Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan mengatakan kasus yang menimpa ASN itu karena ketidaktertiban administrasi. 

"Dari informasi yang saya dapatkan dari Inspektorat, hal ini dikarenakan ketidaktertiban dalam administrasi. Memang uangnya dipergunakan untuk operasional kendaraan, namun kuitansi dan sebagainya tidak disimpan dengan tertib sehingga jadi masalah saat proses audit," ujar Hengky, sperti dikutip detikcom, Jumat (19/7/2019).


Saat ini, kata Hengky, pihaknya tidak akan melakukan intervensi terkait proses hukum yang dijalani ketiga ASN tersebut. 

"Saat ini BPK juga tengah mengupayakan pengembalian aset negara tersebut," katanya.

Hengki mengatakan, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi ASN atau abdi negara lainnya untuk memperhatikan kelengkapan administrasi. Ia pun sudah menyiapkan beberapa langkah antisipasi agar hal ini tak terulang kembali.


"Bila menggunakan uang negara harus benar cara dan tujuan penggunaannya, kelengkapan administrasinya harus diperhatikan, selain itu juga kami sudah menaikkan tunjangan kinerja daerah yang kami nilai sudah cukup tinggi," katanya.

"Ini kami lakukan agar (oknum) ASN tidak curi-curi peluang dan bisa fokus dengan pekerjaannya," kata suami dari artis Sonya Fatmala itu.

Lebih lanjut Hengky mengatakan, sebelum ia dilantik dan menjabat sebagai wakil bupati, berbagai kendala kerap terjadi. 

"Salah satunya korupsi di RSUD Lembang, ini yang menyebabkan kita belum meraih opini WTP tahun ini," terangnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya