backgroud
logo

Fokus

 

Gerindra Putuskan Jadi Oposisi atau Berkoalisi pada Sepember Nanti

Gerindra Putuskan Jadi Oposisi atau Berkoalisi pada Sepember Nanti

 
Gerindra Putuskan Jadi Oposisi atau Berkoalisi pada Sepember Nanti
Gerindra Akan Putuskan Jadi Oposisi atau Berkoalisi pada Sepember Nanti. (CNNIndonesia)
WJtoday
Jumat, 9 Agustus 2019 | 21:20 WIB
WJtoday, Bandung - Partai Gerindra akan menentukan sikap politiknya usai Pilpres 2019, tetap menjadi oposisi atau merapat ke pemerintahan kedua Joko Widodo pada September 2019 mendatang. 

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra Riza Patria mengatakan posisi politik itu akan ditentukan lewat sebuah acara berskala nasional seperti rapat kerja nasional (rakernas) atau rapat pimpinan nasional (rapimnas).

"Mungkin di September 2019, kami ada even (acara) nasional untuk mendiskusikannya. (Agendanya) evaluasi Pileg dan Pilpres 2019, lalu persiapan Pilkada 2020, dan termasuk apakah Gerindra akan ada di posisi pemerintah atau oposisi," kata Riza di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Jumat (9/8/2019).

Dia menerangkan, terdapat tiga opsi yang tengah dipertimbangkan oleh Gerindra terkait posisi di pemerintahan mendatang, yaitu berkoalisi mendukung pemerintahan, berkoalisi di parlemen, atau menjadi oposisi pemerintah.

Menurutnya, hal terpenting bagi Gerindra adalah bisa memberikan kontribusi yang besar di pemerintahan mendatang.

Riza berkata, berkoalisi mendukung pemerintah akan menjadi hal yang tidak baik bila hanya sekadar mendapatkan kursi menteri semata. Sebaliknya, menjadi oposisi akan menjadi hal yang sama jika tidak bisa memberikan kritik yang bersifat konstruktif. 


"Kalau kami di dalam cuma masuk dan duduk tapi enggak berkontribusi apalagi malah korupsi, itu enggak baik untuk rakyat. Sebaliknya di luar tapi cuma bisa teriak-teriak dan enggak bisa memberikan masukan konstruktif enggak baik," ucap Riza.

Sebelumnya dua tokoh Gerindra, Edhy Prabowo dan Fadli Zon disebut dipersiapkan oleh Gerindra untuk menjadi menteri di pemerintahan Jokowi periode kedua. Selain nama Edhy dan Fadli Zon, ada juga Sandiaga Uno juga disebut akan dimasukkan sebagai menteri.

Seperti dikutip CNNIndonesia.com, sumber di lingkaran dekat Prabowo menyebut, nama-nama itu muncul setelah Prabowo bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo.

Menurutnya peluang Gerindra bergabung dengan koalisi Jokowi-Ma'ruf semakin dekat. 

"Hampir 70 persen," kata sumber tersebut.

Sisanya 30 persen, kata dia, masih dikomunikasikan. Salah satunya terkait kesepakatan soal kursi menteri dan kursi lembaga tinggi.

Gerindra Ungkap Ada Penumpang Gelap Hasut Prabowo di Pilpres
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad buka-bukaan soal 'penumpang gelap' yang dia sebut masuk dalam barisan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat Pilpres 2019 lalu. 

Penumpang gelap ini semula nampak mati-matian mendukung Prabowo selama Pilpres berjalan. Namun belakangan diketahui penumpang gelap ini hanya berusaha memanfaatkan Prabowo demi kepentingan pribadi mereka. 

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad

Awalnya Prabowo memang percaya pada penumpang gelap ini. Namun Prabowo kemudian mengambil tindakan karena sadar telah dimanfaatkan secara sepihak. 

"Soal penumpang gelap, bukan karena kita singkirkan. Prabowo jenderal perang, dia bilang sama kita 'kalau diadu terus, terus dikorbankan, saya akan ambil tindakan'. Enggak terduga dia banting setir dan orang-orang itu gigit jari," kata Dasco di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8/2019). 

Meski begitu, Dasco tak mau menjelaskan lebih rinci siapa yang dimaksud para penumpang gelap ini. Yang jelas para penumpang gelap ini kecewa karena Prabowo telah melarang para pendukungnya menggelar aksi di Mahkamah Konstitusi saat sengketa Pilpres 2019 beberapa waktu lalu. 

"Pertama di MK. Itu tidak disangka dan diduga Prabowo akan umumkan ke pendukungnya untuk tidak melakukan demo, enggak datang ke MK agar enggak terjadi hal-hal nggak diinginkan. Itu di luar dugaan, orang itu namanya penumpang gelap," kata Dasco.

Meski begitu, para penumpang gelap ini tetap berusaha menghasut Prabowo usai sidang MK selesai dan Jokowi ditetapkan sebagai pemenang. Kata dia, para penumpang gelap ini ingin Prabowo mengorbankan para ulama dan emak-emak.

"Sesudah MK masih ada yang ngomong sama Pak Prabowo 'Pak kalau mau rakyat marah, ulama dan emak-emak disuruh ke depan biar jadi korban, rakyat marah.' Pak Prabowo pikir, 'emang gue bodoh? Kan kasihan emak-emak, ulama mau dikorbankan'," pungkasnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya