backgroud
logo

Fokus

 

Ketum Muhammadiyah Kritik Ego Elite Politik Rebutan Jatah Jabatan

Ketum Muhammadiyah Kritik Ego Elite Politik Rebutan Jatah Jabatan

 
Ketum Muhammadiyah Kritik Ego Elite Politik Rebutan Jatah Jabatan
Ketum Muhammadiyah Kritik Ego Elite Politik Rebutan Jatah Jabatan. (CNNIndonesia)
WJtoday
Minggu, 11 Agustus 2019 | 20:39 WIB
WJtoday, Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengkritik partai politik yang saat ini lebih mementingkan ego untuk memperebutkan jabatan di Indonesia pasca Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019. Padahal seharusnya para elite politik lebih memikirkan kepentingan bangsa Indonesia. 

"Yang muncul sekarang itu kan egoisme lebih di para elite. Bisa kita lihat sekarang sekarang. Pasca Pilpres, pasca Pileg, itu para elite bukan berpikir bangsa ini mau dibawa kemana. Tetapi satu sama lain saling menjatah kursi dan kemudian berebut kursi," kata Haedar usai menjadi Khatib Salat Id di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Minggu (11/8/2019).

Padahal di momen Idul Adha ini, semangat solidaritas dengan memposisikan diri senasib dengan orang yang berkekurangan. Sehingga akan muncul rasa kepedulian dan tolong menolong demi kepentingan bersama. Ego politik tentu tidak sesuai dengan semangat tersebut. 

"Harus ada jiwa kepedulian terhadap keadaan jangan menikmati dan berebut kekuasaan tanpa hati. Ini penting menjadi pelajaran agar kita ini naik kelas secara peradaban supaya tidak ribut dalam hal-hal yang sifatnya kekuasaan," katanya. 

Haedar mengatakan seharusnya elite politik bisa mengamalkan makna kurban demi kepentingan bangsa Indonesia. Bukan kepentingan golongan dan pribadi. 

"Memang betul bahwa partai politik dan elite politik itu pekerjaan utamanya siapa dapat apa, kapan bagaimana caranya. Tetapi kan kita ini bangsa Indonesia, katanya punya Pancasila, katanya religius, mestinya menyadarkan para elit bahwa bangsa kita ini masalahnya banyak, " ujar Haedar.

Tak hanya elite dan partai politik, Haedar juga mengingatkan seluruh organisasi masyarakat untuk menempatkan kepentingan bangsa negara dan kepentingan umat di atas kepentingan diri dan kelompok sendiri.


Haedar Angkat Suara soal 'Penumpang Gelap' Gerindra
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut penumpang gelap di era politik merupakan praktek yang lumrah terjadi. Pernyataan tersebut menanggapi pernyataan Gerindra bahwa ada penumpang gelap yang masuk barisan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat Pemilihan Presiden (pilpres) 2019 lalu. 

"Saya pikir dalam politik itu yang pragmatis kan biasa saling tumpang-menumpangi, tetapi poin kami itu monggo lah berpolitik yang menjunjung tinggi sistem. Itu yang paling penting," kata Haedar.

Haedar mengatakan politik membuat demokrasi di Indonesia semakin terbuka dan cerdas. "Politik demokrasi itu kan sudah lebih dari 1 daswarsa, sudah 2 dasawarsa pasca reformasi itu. Artinya apa? Dengan demokrasi, kita semakin terbuka, semakin cerdas, lalu muncul check and balances," katanya. 

Akan tetapi, Haedar menolak untuk mengatakan apakah Gerindra perlu mengungkapkan dan mendefinisikan lebih jelas terkait penumpang gelap tersebut. Ia menampik apabila Muhammadiyah disebut mengurusi teknis politik.

"Kalau saya tidak masuk ke situ. Jadi kami sebagai tokoh ormas tidak akan masuk ke area-area teknis dari persoalan politik. Apalagi, kita menghargai setiap partai politik," tegas Haedar. 

Di momen Idul Adha ini, Haedar mengingatkan agar politik di Indonesia bisa memprioritaskan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan partai. 

"Poin positif kami adalah saatnya para tokoh elit dan partai politik itu sebagai kekuatan satu-satunya sistem politik yang resmi memperjuangkan kepentingan rakyat di atas segala kepentingan," imbuhnya. 

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad buka-bukaan soal 'penumpang gelap' yang disebut masuk dalam barisan pendukung Prabowo-Sandiaga saat pilpres. 

Penumpang gelap ini semula nampak mati-matian mendukung Prabowo selama Pilpres berjalan. Namun belakangan diketahui penumpang gelap ini hanya berusaha memanfaatkan Prabowo demi kepentingan pribadi mereka. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya