backgroud
logo

Buletin

 

Aliansi LSM Desak Konfirmasi PT KAI soal Penyembelihan Rusa Bawean

Aliansi LSM Desak Konfirmasi PT KAI soal Penyembelihan Rusa Bawean

 
Aliansi LSM Desak Konfirmasi PT KAI soal Penyembelihan Rusa Bawean
Aliansi LSM Desak Konfirmasi PT KAI soal Penyembelihan Rusa Bawean. (istimewa)
WJtoday
Selasa, 13 Agustus 2019 | 14:05 WIB
WJtoday, Bandung - Rusa Bawean yang sekarang ini berjumlah kurang dari 300 ekor dan hanya dapat di temuidi Pulau Bawean, Jawa Timur. Karena kelangkaannya inilah, Rusa Bawean dijadikan Maskot Asean Games 2018. 

Sangat memprihatinkan, di  lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (PT KAI),  tepatnya di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda Jalan Laswi No. 23 Kota Bandung, terjadi penyembelihan Rusa Bawean pada tangal 1 Mei 2019. 

Menurut Aliansi Lembaga Swadaya Masyarakat Bandung, yang diwakili oleh LSM Jangkar, LSM Brantas, dan LSM Tuar, penyembelihan dilakukan oleh oknum Pejabat Pusat Pendidikan Dan Pelatihan PT KAI.

Aliansi LSM juga menyebutkan proses mengkuliti, mengolah (memasak) rusa bawean menjadi makanan disaksikan oleh Petinggi/oknum PT KAI, kemudian  hasil olahan (masakan) dinikmati bersama-sama.

Terkait masalah tersebut, Aliansi LSM Bandung sudah melayangkan surat untuk minta penjelasan/klarifikasi dari Dirut PT KAI atau pejabat yang berwenang. Ada dua hal pokok yang diminta klarifikasi dalam surat tersebut.

Pertama, Bagaimanakah kebenarnya kronologis peristiwa penyembelihan rusa Bawean tersebut,  menurut versi PT KAI  selaku pihak yang dianggap paling berwenang untuk memberi tanggapan

Kedua, Kalau memang dugaan yang Aliansi LSM Bandung sebutkan soal peristiwa penyembelihan Rusa Bawean, yang mana informasinya didapat dari masyarakat, maka dari mana asal usul Rusa Bawean itu didapat. 


Sebaga informasi, larangan perlakuan secara tidak wajar terhadap satwa yang dilindungi terdapat dalam pasal 21 ayat (2) UU 5/1990.

Sedangkan sanksi hukumnya menyebutkan, Sanksi pidana orang yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 21 ayat (2) adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Sanksi pidana orang yang lalai melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 40 Undang-undang nomor 7 tahun 1999 adalah pidana maksimal 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). 

Saat dikonfirmasi WJtoday melalui sambungan telepon, Ketua Umum LSM Jangkar, Yudi  I Saputeranegara mengungkapkan bahwa sampai hari ini pihak PT KAI belum memberikan tanggapan atau klarifikasi.

"Belum, belum ada tanggapan dari pihak PT KAI." kata Yudi, Selasa (13/8/2019).

Yudi juga menyayangkan peristiwa penyembelihan Rusa Bawean tersebut dipertontonkan kepada masyarakat. 

Aliansi LSM Bandung kemungkinan akan menggelar aksi massa jika sampai minggu depan pihak PT KAI tidak juga memberikan tanggapan.

"Kami akan rapat dalam beberap hari ke depan. Kemungkinan kami akan demo minggu depan." pungkas Yudi. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya