backgroud
logo

Fokus

 

Polri Klaim Situasi di Papua Berangsur Kondusif

Polri Klaim Situasi di Papua Berangsur Kondusif

 
Polri Klaim Situasi di Papua Berangsur Kondusif
Polri Klaim Situasi di Papua Berangsur Kondusif. (antara)
WJtoday
Selasa, 20 Agustus 2019 | 14:34 WIB
WJtoday, Jakarta - Polri mengklaim situasi di wilayah Jayapura, Papua dan Manokwari, Papua Barat hari ini mulai berangsur kondusif. Situasi di dua wilayah itu sempat memanas, Senin (20/8/2019) kemarin. 

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan di Jayapura, Papua misalnya masyarakat sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Begitu juga di Manokwari, Papua Barat sudah mulai berangsur membaik.

"Papua Barat, khususnya Manokwari hari ini berangsur cukup baik. Aktivitas kegiatan masyarakat berangsur normal," kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (20/9/2019).

Dedi menyampaikan, saat ini juga sudah ada tambahan personel pengamanan di Manokwari sebanyak empat SSK (satuan setingkat kompi) dari Polda Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, serta Maluku.

"Sudah menempati posisi masing-masing dan yang terpenting kehadiran anggota di sana memastikan situasi dan menjamin betul-betul aman dan tertib," ujarnya.

Sementara itu, untuk wilayah Sorong, Papua Barat, Dedi mengungkapkan sampai saat ini memang masih ada aksi yang dilakukan oleh kurang lebih 500 orang.

Namun proses negosiasi antara aparat kepolisian dan tokoh masyarakat sampai saat ini masih terus dilakukan.

"Apa yang jadi aspirasinya akan diterima, ditampung ke pemerintah pusat. Situasi di Sorong boleh dikatakan cukup membaik," ucap Dedi.

Lebih lanjut, Dedi menuturkan saat ini bandara di Sorong dan Manokwari juga sudah kembali beroperasi secara normal.

"Artinya secara umum situasi papua boleh dikatakan cukup kondusif," katanya.

Selain di Manokwari dan Jayapura, aksi protes juga terjadi di Sorong. Hari ini, Selasa (20/8/2019), masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Sorong kembali turun ke jalan melakukan aksi protes terkait insiden pengepungan asrama mahasiswa di Surabaya dan kejadian bentrok di Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan laporan jurnalis Transmedia, Jersy Allen, seperti dikutip CNNIndonesia, massa melakukan long march dari berbagai titik. Titik berkumpul massa untuk melakukan aksi itu adalah di depan Kantor Wali Kota Sorong yang berada di Jalan Pendidikan. Mereka juga memblokade jalan.

"Semua terkonsentrasi di depan Kantor Wali Kota ini melakukan orasi. Belum ada pejabat yang terlihat menemui warga," ujar Jersy Allen dari dekat kantor Wali Kota Sorong, Selasa (20/8).

Massa mulai berkumpul di depan Kantor Wali Kota Sorong usai melakukan long march itu sekitar pukul 11.30 WIT. Sementara itu situasi di kota Sorong, dilaporkan Jersey bahwa terjadi pemblokiran jalan-jalan di dalam kota tersebut.

Sempat terjadi aksi pelemparan yang dilakukan sekelompok massa ke arah Gedung Disdukcapil Kota Sorong. Selain itu, juga ada aksi pembakaran lapak-lapak penjual yang dikumpulkan di persimpangan Jalan Pendidikan dan Jalan Maleo.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo 

Polri Kantongi 5 Akun Medsos Diduga Memicu Kerusuhan di Papua
Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menemukan lima akun media sosial yang diduga sebagai penyebab aksi unjuk rasa berujung kerusuhan di Papua dan Papua Barat.

"Ada lima akun, ya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (20/9/2019).

Dedi menyampaikan saat ini Dittipid Siber masih mengumpulkan data terhadap akun media sosial tersebut, baik Youtube maupun Facebook. Akun itu, kata Dedi, diduga menyebarkan narasi hingga video berkonten provokatif.

"Viralkan narasi-narasi maupun video provokatif," ujarnya.

Selain itu, Dedi mengungkapkan Dittipid Siber juga menganalisa akun Instagram yang juga diduga menyebarkan konten provokatif.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut aksi demo yang terjadi di Papua Barat dan Papua dipicu oleh insiden yang sebelumnya terjadi di Asrama Papua di Surabaya dan Malang. Namun peristiwa itu sudah bisa diselesaikan.

Tito menduga ada oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di dua kota tersebut untuk memicu kerusuhan yang lebih besar lagi.

Oknum tersebut kemudian menyebarkan informasi yang tak benar atau hoaks di media sosial. Di antaranya ucapan atau makian yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua. Lalu ada informasi bahwa ada satu mahasiswa Papua yang tewas di Surabaya.

Hal itulah yang diduga menjadi penyebab warga Papua di Manokwari dan Jayapura memanas. Alhasil, kerusuhan di wilayah tersebut semakin membesar tidak bisa lagi terhindarkan.

"Muncul hoaks mengenai ada kata yang kurang etis dari oknum tertentu. Ada juga gambar seolah adik-adik kita dari Papua meninggal. Ini berkembang di Manokwari kemudian terjadi mobilisasi massa," kata Tito.

Selain itu, viral video yang merekam sejumlah oknum berseragam TNI di depan Asrama Papua. Dalam video itu tampak lima orang berseragam loreng meminta orang yang berada di asrama segera keluar. Makian terdengar dalam video tersebut, namun sumber suara tidak diketahui jelas.


Buntut Ricuh Papua, Gubernur Jatim Akan Bangun Asrama Nusantara
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa berencana mendirikan Asrama Mahasiswa Nusantara, di Surabaya. Khofifah mengatakan rencana pembangunan Asrama Mahasiswa Nusantara itu menyusul insiden kericuhan yang terjadi antara mahasiswa Papua di Surabaya dengan organisasi masyarakat (ormas). Peristiwa itu kemudian menjadi pemicu rusuh di Manokwari, Papua Barat. 

Khofifah mengatakan, asrama nusantara berfungsi untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antarsesama mahasiswa lintas daerah. Gagasan tersebut disampaikan usai menggelar Silaturahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jatim bersama para tokoh Papua di Rumah Dinas Kapolda Jatim, Senin (19/8/2019) malam. 

"Kita sebenarnya ini Kebhinekaan-nya itu banyak lapis-lapis luar, belum Kebhinekaan substantif. Lalu muncul gagasan bagaimana kalau mahasiswa kita siapkan asrama mahasiswa nusantara," ujar Khofifah. 

Khofifah menjelaskan asrama mahasiswa nusantara nantinya akan diperuntukan bagi mahasiswa-mahasiswa lintas wilayah dan dari berbagai provinsi. Mereka akan berbaur dan tinggal bersama di asrama tersebut.

"Kita akan siapkan di plot Papua berapa, Kalimantan berapa, Sulawesi berapa. Jadi, ini sebenarnya memori kita semua, bagaimana sebetulnya Jong Java, Jong Celebes, Jong Borneo, itu semua mereka kemudian mengikrarkan dirinya," ujarnya. 

Mantan Menteri Sosial RI ini juga mengatakan, dengan tinggal bersama dan berbaurnya para mahasiswa dari berbagai daerah ini, diharapkan bisa memunculkan rasa saling menghargai perbedaan, serta memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. 

"Dengan adanya asrama mahasiwa nusantara, untuk bersama-sama mengikatkan komitmen inilah tumpah darah kita Indonesia," ucapnya. 

Kendati demikian, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) itu belum mengatakan di mana lokasi asrama tersebut akan dibangun pihaknya. 

"Lokasinya ada, tapi nanti (diumumkan)" pungkasnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya