backgroud
logo

Fokus

 

Pakar Hukum Pidana: Ceramah UAS tak Termasuk Perbuatan Penistaan Agama

Pakar Hukum Pidana: Ceramah UAS tak Termasuk Perbuatan Penistaan Agama

 
Pakar Hukum Pidana: Ceramah UAS tak Termasuk Perbuatan Penistaan Agama
Pakar hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof. Mudzakir . (law and justice)
WJtoday
Rabu, 21 Agustus 2019 | 10:59 WIB
WJtoday, Bandung - Pakar hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof. Mudzakir menilai ceramah Ustad Abdul Somad (UAS) tidak melakukan perbuatan menista agama. Sebab, ceramahnya yang menyinggung 'salib' dilakukan di forum tertutup yaitu masjid dan diikuti oleh umat Islam saja.

"Tidak termasuk (menista agama/delik pasal 156a KUHP)," kata Mudzakir, seperti dikutip  detikcom, Rabu (21/8/2019).

Pasal 156a menyatakan dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja 'di muka umum' mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. 

Menurut Mudzakir, UAS sedang menjawab pertanyaan ummatnya. Tanya jawab itu dilakukan di masjid setelah shalat subuh sehingga tidak memenuhi delik.

"Kalau ummatnya bertanya. Dan dalam forum itu homogen, itu bukan bagian dari penghinaan. Karena dalam konteks agama, orang akan mengajarkan yang benar menurut agamanya. Akan mengutamakan kebenaran agamanya," terang Mudzakir.

Oleh sebab itu, konteks menjadi penting dalam memahami dan memaknai Pasal 156a KUHP. Termasuk memahami apakah pernyataan itu disampaikan di forum internal (satu keyakinan) atau eksternal (beragam keyakinan).

"Kalau dalam forum yang homogen, itu tentu lumrah. Perbandingan agama itu untuk meyakini agama masing-masing," ujar Mudzakir.

Menjadi masalah kemudian adalah ketika ada yang merekam ceramah internal itu kemudian tersebar. Menurut Mudzakir, bagi penganut agama yang benar, tidak mempermasalahkan. 

"Mestinya orang memahami ceramahnya di mana dan orang harus maklum," katanya.

Bila kasus UAS diteruskan, menurut Mudzakir, maka menjadi preseden buruk dalam beragama. Sebab, di tiap-tiap forum internal keagamaan juga membanding-bandingkan agama lain dan menilainya dengan keyakinannya.

"Nanti bisa-bisa di gereja, di masjid pasang rekaman. Ujung-ujungnya disharmonis agama-agama. Jangan-jangan nanti ceramah di kamar mandi juga dipidana," kata Mudzakir.


Terkait laporan yang sudah masuk ke kepolisian, menjadi diskresi bagi kepolisian. Apakah akan meneruskan ke proses lebih lanjut, atau ditolak laporannya.

"Kalau polisi harus konsisten, meski berdasarkan ilmu hukumnya tidak termasuk, berarti semua laporan tetap harus diproses," tegasnya.


MUI Akan Undang Abdul Somad untuk Klarifikasi
Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengundang Ustaz Abdul Somad (UAS) untuk mengklarifikasi video ceramah Abdul Somad tentang salib dan patung yang menjadi perbincangan di media sosial. Rencananya, Abdul Somad akan hadir ke gedung MUI, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2019).

"Kami ingin menggali informasi dari beliau untuk mengetahui secara detail tentang kronologi permasalahan agar nantinya tidak salah dalam mengambil keputusan, maka kami perlu bertabayyun terlebih dulu dengan yang bersangkutan," kata wakil ketua umum MUI, Zainut Tauhid Saadi dalam pesan singkatnya.

Menurut Zainut, pertemuan rencananya akan datang di kantor MUI sekitar pukul 15.00 WIB.

"Insya Allah beliau siap bertemu dengan kami hari ini," kata dia.

Undangan kepada Abdul Somad, kata Zainut, sesuai dengan hasil keputusan Rapat Pimpinan Harian MUI Selasa (20/8).

"Kami menyepakati akan mengundang Ustaz Abdul Somad (UAS) untuk bersilaturahmi sekaligus klarifikasi," katanya.

Zainut menambahkan MUI ingin memosisikan diri sebagai mediator atau penengah dalam menyelesaikan masalah ini. 

"Kami berharap masalah ini cepat bisa diselesaikan sehingga tidak berlarut," katanya.

Video ceramah UAS soal salib dan patung beredar di media sosial sejak beberapa hari lalu dan menuai kontroversi. Sejumlah elemen masyarakat juga telah melaporkan UAS ke polisi karena ceramah itu dinilai sebagai bentuk penistaan agama.

UAS telah mengklarifikasi soal isi ceramahnya tersebut. Dia menegaskan bahwa substansi ceramahnya itu hanya sekadar menjawab pertanyaan dari salah satu jemaah dan bukan untuk merusak hubungan antarumat beragama di Indonesia.

UAS menjelaskan bahwa ceramah yang mengundang polemik itu dilakukan di Masjid An-Nur Pekanbaru sekitar tiga tahun lalu. Ia menjelaskan subtansi ceramah tersebut hanya untuk menjawab pertanyaan dari jamaah tentang patung dan kedudukan Nabi Isa AS yang tertera dalam Alquran dan Sunah Nabi Muhammad SAW.

Zainut mengatakan, MUI telah mengimbau kepada semua pihak untuk bersabar, tetap tenang, tidak terpancing dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang sengaja ingin menciptakan keresahan di masyarakat dengan cara mengadu domba antarumat beragama. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya