backgroud
logo

Inspirasi

 

Inovasi Mahasiswa Unpad, Olah Limbah Sawit Jadi Kain Tenun

Inovasi Mahasiswa Unpad, Olah Limbah Sawit Jadi Kain Tenun

 
Inovasi Mahasiswa Unpad, Olah Limbah Sawit Jadi Kain Tenun
Inovasi Mahasiswa Unpad, Olah Limbah Sawit Jadi Kain Tenun. (dok pribadi Muhammad Mas'ud)
WJtoday
Rabu, 21 Agustus 2019 | 11:20 WIB
WJtoday, Bandung - Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) berhasil meraih juara tiga lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit 2019. 

Inovasi yang mereka cetuskan yaitu mengolah limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi kain tenun.

Tim terdiri tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad masing-masing Muhammad Mas'ud, Sita Halimatus Sa'diyah, dan Bonie Pamungkas ini melaksanakan penelitian selama delapan bulan. 

"Biasanya di industri ada proses pengepresan untuk mengambil minyak, hasilnya si tandannya udah berbentuk serat. Kami bersihkan tandan kosong dari kotoran, kita rendam dengan zat kimia. Lalu nantinya menghasilkan dua jenis kain, tenun dan non-woven," tutur Mas'ud, selaku ketua tim, melalui sambungan telepon, seperti dikutip detik.com (20/8/2019).

Mas'ud menjelaskan nantinya hasil kain tenun dapat dimanfaatkan untuk seni kriya. Sedangkan kain jenis non-woven dapat digunakan untuk industri biotekstil, peredam suara, maupun sebagai isolator panas.

Ia berharap inovasi ini dapat memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan sawit. "Soalnya kebanyakan kebun sawit punya konflik dengan masyarakatnya. Siapa tahu kalau masyarakatnya diberdayakan, konflik itu tidak terjadi, karena masyarakat merasa diperhatikan," tutur mahasiswa angkatan 2014 tersebut.

Dosen pembimbing tim Unpad, Ahmad Thoriq menjelaskan, berkaitan industri kelapa sawit di Indonesia, terdapat dua jenis pengelolaan limbah. Pertama, jenis pabrik sawit continuous system. Menurut dia, dalam sistem tersebut, limbah diolah untuk dijadikan pupuk kompos. 

Ia menilai sistem tersebut memakan biaya yang besar. 


"Yang continuous, tandan kosong kelapa sawit, buah sawitnya dipanaskan, diperontokkan, lalu di-press. Nanti keluar sudah bentuk serabut, lalu nanti dimasukkan ke truk-nya, dibawa ke pengolahan kompos. Pengolahan kompos itu butuh lahan luas lima hektare, pakai alat berat. Investasinya cukup mahal itu," jelas  Ahmad.

Jenis kedua yaitu sistem pabrik sawit model lama. Ahmad menilai sistem tersebut dapat menyebabkan turunnya produktifitas pohon kelapa sawit. 

"Model tankosnya (tandan kosong) nggak di-press, dibawa dalam bentuk bongkahan besar, itu dibuang langsung ke lahan," tuturnya.

"Lama pembusukannya karena kan dia masih bongkahan besar, ada minyaknya, seringkali itu jadi sarang tikus. Tikusnya makan buah sawit yang baru matang, karena dimakan itu produktivitas kebun sawitnya turun," lanjut Ahmad.

Ahmad berharap ke depannya hasil dari penelitian tim Unpad yang mengolah limbah sawit menjadi kain tenun ini terus dikembangkan lebih lanjut. 

"Tidak sampai di sini saja, tapi bisa dimanfaatkan, terutama daerah yang mempunyai budaya tenun," harapnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya