backgroud
logo

Ekspresi

 

Review Film: 'Gundala'

Review Film: 'Gundala'

 
Review Film: 'Gundala'
Review Film: 'Gundala'. (tribun news)
WJtoday
Sabtu, 31 Agustus 2019 | 15:59 WIB
WJtoday, Bandung - Sukar rasanya menilai Gundala (2019) sebagai film yang bagus. Tapi di sisi lain, film ini juga tidak buruk. Kata yang mungkin tepat untuk menilai Gundala adalah "biasa." 

Ya, film yang disutradarai dan ditulis Joko Anwar ini biasa saja.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan film ini mendapat label itu. Mulai dari eksekusi cerita, logika cerita, perpindahan antar adegan, pembentukan karakter dan koreografi masih belum terasa ajek. 

Narasi film pembuka dari Jagat Sinema BumiLangit ini sendiri jauh berbeda dari seri komik Gundala Putra Petir. Dalam komik tidak pernah diceritakan masa kecil Sancaka alias Gundala. Tapi dalam film ini ada. Joko menulis kisahnya berdasarkan catatan Harya Suraminata (Hasmi), kreator Gundala.

Sejak kecil Sancaka (Muzaki Ramdhan) hidup kekurangan. Ayahnya (Rio Dewanto) buruh pabrik, sementara ibunya (Marissa Anita) tidak bekerja. Sancaka kecil pun menjadi yatim ketika ayahnya meninggal saat berlangsung demonstrasi di pabrik.

Sancaka kemudian tinggal di jalanan dan belajar menjalani hidup yang keras. Tak ayal Sancaka tumbuh dewasa --diperankan Abimana Aryasatya-- menjadi tahan banting dan piawai bela diri. Hanya saja, Sancaka hanya memikirkan diri sendiri. 

Dari titik inilah kemudian narasi kepahlawanan Gundala dimulai. Tepatnya saat Sancaka bekerja sebagai petugas keamanan di perusahaan percetakan dan tinggal di rumah petakan. Perlahan ia sadar memiliki kekuatan untuk bisa melawan berbagai kejahatan. Termasuk melawan Pengkor (Bront Palarae), seorang mafia kaya yang mengoordinir sekawanan penjahat untuk melakukan berbagai pekerjaan kotor.


Sayang cerita tidak dieksekusi dengan menarik. Aksi-aksi Gundala melawan kejahatan berlangsung datar dan tidak mengundang emosi. 

Salah satu masalahnya adalah sumber motivasi Sancaka menjalani peran sebagai Gundala. Jika superhero acap kali dinarasikan punya satu trauma atau momen yang kemudian memantik rasa heroisme dalam diri, Sancaka tidak demikian. Ia tak punya motivasi kuat, dan bahkan bisa disebut kebetulan belaka jika kemudian memilih jalan memerangi para penjahat. Penonton pun kurang terangsang untuk merasa bahwa Gundala benar-benar pahlawan, patriot, dan jagoan. 

Persoalan berikutnya adalah narasi yang kurang 'ramah' bagi film yang diberi rating 13 tahun ke atas. Bahkan, rasa-rasanya cerita juga terlalu sarat isu untuk mereka remaja berusia sampai 18 tahun yang ingin menonton Gundala sebagai hiburan.

Konflik yang ditampilkan adalah kesenjangan sosial antara kaum bawah dengan kaum atas. Selain direpresentasikan oleh orang kaya raya, golongan atas ini diwakili oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Untuk memahami cerita Gundala secara utuh, butuh berpikir lebih dan menonton dengan konsentrasi. 

Kelemahan lainnya adalah beberapa cerita yang bolong atau plot hole dalam film berdurasi 123 menit tersebut. Namun tampaknya hal ini disengaja agar cerita Gundala bisa berkembang ke seri-seri berikutnya di Jagat Sinema BumiLangit.

Selanjutnya adalah logika cerita yang kurang rapi dan matang. Ada beberapa adegan yang menimbulkan pertanyaan mengapa bisa terjadi. Salah satunya ketika tiba-tiba saja kontak Gundala amat mudah ditemukan oleh sosok yang baru ditemuinya satu kali.

Satu nilai plusnya adalah efek visual Gundala tergolong bagus untuk film Indonesia. Hanya ada sedikit adegan yang terasa sebagai polesan. Itu pun masih nyaman dilihat dan tak mengganggu mata. Film ini juga ditopang oleh akting yang bagus dari seluruh pemain utama. Terlebih Bront Palarae yang bisa dikatakan merebut perhatian penonton dari Abimana.

Meski dengan sederet catatan tersebut, Gundala sebagai pilot project Jagat Sinema Bumilangit cukup untuk menjadi gerbang. Cukup membuat penasaran bagaimana plot hole-plot hole akan dikembangkan di masa depan, dan cukup mengapungkan harapan bahwa film kedua Gundala akan dibuat lebih baik lagi. ***
(pam/sumber: CNNIndonesia)

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya