backgroud
logo

Trensosial

 

Postingan di Twitter Sebabkan Dandhy Laksono Berurusan dengan Polisi

Postingan di Twitter Sebabkan Dandhy Laksono Berurusan dengan Polisi

 
Postingan di Twitter Sebabkan Dandhy Laksono Berurusan dengan Polisi
Postingan di Twitter Sebabkan Dandhy Laksono Berurusan dengan Polisi. (tribun news)
WJtoday
Jumat, 27 September 2019 | 21:02 WIB
WJtoday, Bandung - Jurnalis sekaligus pendiri rumah produksi Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono ditetapkan sebagai tersangka karena mengunggah informasi tentang Papua yang dianggap polisi mengandung ujaran kebencian dan isu SARA.

Konten yang dipublikasi oleh Dandhy di Twitter tersebut menampilkan foto warga Papua yang diduga menjadi korban kekerasan aparat di Wamena dan Jayapura.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan unggahan tersebut kemudian menjadi dasar penetapan Dandhy sebagai tersangka.

"Postingan itu mengandung ujaran kebencian dan isu SARA. Makanya tadi malam, kita lakukan penangkapan," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jumat (27/9/2019).

Dalam unggahannya, Dandhy menampilkan foto kondisi mahasiswa Papua yang terluka parah akibat kekerasan aparat. Korban tersebut merupakan bagian dari Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia.

Dandhy menyebut para mahasiswa diangkut dari posko Universitas Cenderawasih ke Expo Waena.

"Rusuh. Ada yang tewas," tulis Dandhy di akun Twitternya.


Sementara foto kedua menampilkan pelajar SMA yang meringis kesakitan. Dandhy menulis keterangan pada foto itu bahwa para siswa SMA yang memprotes sikap rasis para guru harus berhadapan dengan aparat dan berujung rusuh di Wamena.

Argo mengatakan unggahan yang dibuat Dandhy tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Postingan dalam tulisan itu menggambarkan kegiatan di Papua yang belum bisa dicek kebenarannya," ujarnya.

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, polisi tidak melakukan penahanan terhadap Dandhy. Argo mengatakan hal itu merupakan kewenangan dari penyidik.

Atas unggahannya tersebut, Dandhy dijerat Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45A Ayat (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang penyebaran ujaran kebencian terhadap individu atau suatu kelompok berdasarkan SARA.

Kuasa hukum Dandhy, Alghifari Aqsa mengatakan, twit itu diunggah pada 23 September lalu. 

"Adapun twit yang dipermasalahkan adalah twit tentang Papua tanggal 23 September. Mungkin teman-teman bisa melihat (twit tentang) peristiwa di Papua dan Wamena," kata Alghifari usai menemani Dandhy menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (27/9/2019). ***

WJT / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya