backgroud
logo

Fokus

 

Istana Sebut Aktivitas Buzzer di Medsos Malah Rugikan Jokowi

Istana Sebut Aktivitas Buzzer di Medsos Malah Rugikan Jokowi

 
Istana Sebut Aktivitas Buzzer di Medsos Malah Rugikan Jokowi
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko Sebut Aktivitas Buzzer di Medsos Malah Rugikan Jokowi. (antara)
WJtoday
Jumat, 4 Oktober 2019 | 21:44 WIB
WJtoday, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan aktivitas para buzzer atau pendengung pendukung Presiden Joko Widodo saat ini justru merugikan presiden terpilih periode 2019-2024 itu. Ia mengimbau para pendukung Jokowi tersebut menyebarkan informasi yang positif di media sosial.

"Ya kita melihat dari emosi yang terbangun, emosi yang terbangun dari kondisi yang tercipta itu merugikan. Jadi ya yang perlu dibangun emosi positif lah," kata Moeldoko di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Dia  merespons tentang aktivitas para pendukung Jokowi beberapa hari belakangan ini. Dua kasus dia soroti yakni terkait penyebaran informasi ambulans DKI Jakarta yang disebut membawa batu dan bensin saat aksi massa di sekitar Gedung MPR/DPR.

Lalu kasus tangkapan layar grup WhatsApp pelajar STM, yang ternyata nomor telepon di grup itu diduga milik anggota Polri.

Kedua informasi itu dianggap sejumlah pihak menyesatkan alias hoaks.

Berdasarkan analisa DroneEmprit terkait mobil ambulans DKI Jakarta membawa batu dan bensin, diketahui bahwa pihak pertama yang menyebarkan informasi itu adalah akun-akun yang dikenal kerap 'membela' Jokowi ataupun pemerintah.

Mereka antara lain, @OneMurthada, @Paltiwest, @digeeembok, @Dennysiregar7, dan akhirnya juga diunggah oleh akun @TMCPoldaMetro. Setelah ramai 'dilawan', akhirnya Polda Metro mengakui keliru menyebut ambulans DKI bawa batu dan bensin.

Sementara itu, sejumlah akun yang mengunggah tangkapan layar grup WhatsApp anak STM antara lain, @TheREAL_Abi, dan @OneMurtadha. Namun akun-akun tersebut sudah menghapus unggahannya setelah para pengguna Twitter lainnya mengkritisi isi tangkap layar itu.

Kehadiran buzzer, menurutnya, awalnya untuk memperjuangkan dan menjaga marwah pemimpinnya. Namun, bagi Moeldoko, dalam kondisi Pemilu sudah selesai, buzzer sudah tak diperlukan lagi.

Dia juga  menyebut yang diperlukan saat ini adalah dukungan politik yang lebih membangun, bukan dukungan yang malah bersifat destruktif.

"Karena kalau buzzer-buzzer ini selalu melemparkan kata-kata yang tidak enak didengar, tidak enak di hati. Nah itu lah destruktif dan itu sudah enggak perlu lah. Untuk apa itu?" tegasnya.

Diharapkannya para buzzer menurunkan semangat yang berlebihan dalam mendukung seorang tokoh idolanya, dalam hal ini Jokowi. Ia juga tak ingin buzzer yang mendukung Jokowi ini justru menyebarkan kebencian.

Dia mengimbau para buzzer untuk menggunakan bahasa yang nyaman dan tak menyakiti pihak lain. Ia mengaku sudah menyampaikan langsung kepada influencer, tokoh-tokoh relawan dan tokoh-tokoh yang lainnya.

Moeldoko mengatakan bahwa pihaknya tak bisa menertibkan para buzzer tersebut. Menurutnya, para buzzer itu tak memiliki komando dan bergerak dengan cara masing-masing.

"Saya pikir itu ya karena memang secara administrasi juga kita tidak membuat itu. Kita tidak membuat struktur sama sekali, enggak ada. Tapi itu berkembang masing-masing," jelasnya.


Pemilu Usai, Buzzer-buzzer Harus Ditinggalkan
Moeldoko juga menyebut para buzzer atau pendengung di media sosial pendukung Presiden Joko Widodo tak satu komando ketika melakukan aktivitas di media sosial. Mereka merupakan para relawan dan pendukung fanatik saat kontestasi Pilpres 2019 lalu.

"Jadi memang buzzer-buzzer yang ada itu tidak dalam satu komando, tidak dalam satu kendali. Jadi masing-masing punya inisitiaf," katanya.

Dia mengatakan  para buzzer tidak ingin idolanya diserang, dan disakiti.

"Akhirnya masing-masing bereaksi. Ini memang persoalan kita semua, juga kedua belah pihak," ujarnya.

Moeldoko mengatakan perlu kesadaran bersama untuk menurunkan tensi. Mantan Panglima TNI itu mengajak semua pihak untuk menata ulang kembali cara berkomunikasi, khususnya di media sosial.

Dia juga  berpendapat bahwa 'buzzer' tersebut harus ditinggalkan karena pesta demokrasi lima tahunan ini sudah selesai. Bahkan, ia mengaku terkadang bahasa yang dipakai 'buzzer' tak enak untuk didengar.


"Menurut saya sih buzzer-buzzer itu harus ditinggalkan, Pemilu juga sudah selesai. Jadi (pakai) bahasa-bahasa persaudaraan, kritik sih kritik tapi harus dengan bahasa-bahasa yang, kadang-kadang enggak enak juga didengar," ungkapnya.

Ia mengaku sudah meminta para relawan atau pendukung fanatik Jokowi bersifat lebih dewasa dan tak emosional ketika merespons sesuatu hal. Namun, kata Moeldoko, terkadang sulit dipraktikkan karena sudah terpolarisasi sejak Pilpres lalu.

"Jadi perlu memang masing-masing menyadari lah bagaimana membangun lagi situasi yang enjoy. Jangan politik diwarnai dengan tegang, politik diwarnai dengan saling menyakiti. Menurut saya enggak pas," ujarnya.

Dia  membantah KSP yang menjadi komando para buzzer Jokowi. Justru, kata Moeldoko, pihaknya yang melarang para buzzer.

"Sama sekali tidak, justru kita KSP itu mengimbau 'sudah kita jangan lagi seperti itu'. Beberapa kali saya sudah ngomong kan," pungkasnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya