backgroud
logo

Buletin

 

Ketua DPRD Jabar Minta Maaf, Kasubag Perlengkapan tak Jadi Mundur

Ketua DPRD Jabar Minta Maaf, Kasubag Perlengkapan tak Jadi Mundur

 
Ketua DPRD Jabar Minta Maaf, Kasubag Perlengkapan tak Jadi Mundur
Bambang Nugraha Bahariamsyah saat memberikan keterangan pers, Sabtu (5/10/2019).. (wjtoday.com)
WJtoday
Minggu, 6 Oktober 2019 | 02:37 WIB
WJrtoday, Bandung - Insiden penamparan yang dilakukan Ketua DPRD Jabar Brigjen TNI (purn) Taufik Hidayat terhadap Kasubag Perlengkapan dan Pemeliharaan Sekretariat DPRD Jabar Bambang Nugraha Bahariamsyah SAP, berakhir dengan jalan damai.

Kedua pihak sepakat berdamai dan Brigjen Taufik pun menyampaikan permohonan maafnya atas tindakannya tersebut saat menggelar pertemuan di rumah dinas Ketua DPRD Jabar di Jalan Cibeunying Selatan, Kota Bandung pada Jumat (5/10/2019) malam.

"Ada (permohonan maaf). Kita saling maaf-memaafkan," ujar Bambang saat jumpa pers yang digelar Sekretariat DPRD Jabar di sebuah kafe di Jalan Progo, Kota Bandung, Sabtu (5/10/2019) sore.

"Karena memang saya juga ada kesalahan. Pak Ketua (Brigjen Taufik) khilaf, kita saling memaafkan, tidak menjadi permasalahan lebih lanjut lagi," sambungnya. 

Seusai pertemuan Jumat malam tersebut, Bambang pun merevisi pernyataannya soal pengunduran dirinya dari jabatan Kasubag Perlengkapan dan Pemeliharaan Sekretariat DPRD Jabar. Menurutnya, tidak ada pembicaraan soal mengundurkan diri dengan Brigjen Taufik dalam pertemuan

"Tugas-tugas di Sekwan (sekretariat DPRD) itu kan begitu berat, kalau saya dengan begitu, mundur, itu belum apa-apalah. Kita ingin membangun keselarasan antara legislatif dan eksekutif," ungkapnya.

Secara garis besar, Bambang membenarkan soal insiden yang terjadi pada Selasa (1/10/2019) malam tersebut. Dia tidak menampik adanya kejadian tersebut. Dia memaparkan, insiden tersebut terjadi dipicu karena dirinya dianggap tidak bsia menyelesaikan renovasi pagar yang rusak dengan tuntas sesuai harapan. Brigjen Taufik tidak puas dengan hasil pengerjaan perbaikan pagar Gedung DPRD Jabar yang roboh akibat aksi demonstrasi. 

"Pertama kita ada demo tanggal 23 dan pagar runtuh, kami benerin sudah berdiri. Tanggal 30 ada demo lagi yang mengakibatkan pagar roboh lagi dan kami betulkan kembali," kata Bambang. 

"Tanggal 30 kan pagar rubuh, ada 9 ruas yang rusak dan Pak Taufik minta dicor. Pada tanggal 1 Oktober, baru 5 ruas yang selesai, sisa 4 lagi. Saya tidak bisa memanggil lebih banyak petugas (untuk memperbaiki) karena situasinya sudah malam," ungkapnya. 

Pada proses perbaikan terakhir, kata Bambang, Ketua DPD Partai Gerindra Jabar tersebut datang untuk melihat proses pengerjaan. Menurut dia, Taufik marah karena proses pengerjaan berjalan lambat. "Darurat sebenarnya, kekurangan personel. Itu harus selesai sebelum ada demo. Makanya Pak Ketua menekankan harus tambah personel mungkin itu sebab kemarahan Pak Ketua," tutur dia. 

Bambang dan Taufik sudah bermalam selama 2 hari melakukan pengawasan terhadap gedung DPRD Jabar, sehingga dirinya menilai bahwa insiden tersebut dipicu oleh kondisi keduanya yang telah sama-sama kelelahan. 

"Mungkin Pak Ketua spontan karena kelelahan, akibatnya terjadi hal di luar prediksi. Mungkin beliau merasa beban karena ada keterlambatan (perbaikan pagar)," ungkapnya.

Namun Bambang enggan mengakui bahwa dirinya ditampar oleh purnawirawan TNI berpangkat bintang satu tersebut. "Itu mah menampar atau apa, tergantung penafsiran masing-masing. Maksud beliau enggak nampar ya," kilah dia.


Dalam jumpa pers kali ini, Taufik sendiri tidak hadir.  Menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat DPRD Jabar Yedi Sunardi yang memfasilitasi digelarnya jumpa pers, Brigjen Taufik tidak hadir karena merasa persoalan itu sudah selesai. Dengan adanya pertemuan di rumas dinas Ketua DPRD Jabar yang berujung damai, menurutnya, Taufik menilai sudah tidak ada masalah yang harus diklarifikasi secara langsung.

"Pak Taufik merasa ini sudah beres, makanya Pak Ketua tidak dateng," ujar Yadi. 


Laporan berjudul 'Kronologis pendorongan kepala dan penamparan' yang ditulis Bambang Nugraha Bahariamsyah menceritakan kronologis insiden pendorongan dan penamparan yang dilakukan Ketua DPRD Jabar Brigjen TNI (purn) Taufik Hidayat terhadap Bambang. Laporan ini pun sempat menyebar di kalangan terbatas melalui aplikasi WhatsApps sejak Kamis (3/10/2019) malam.

Ditampar dan Mengundurkan Diri
Diberitakan wjtoday sebelumnya, Bambang menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perlengkapan dan Pemeliharaan Sekretariat DPRD Jabar. Langkah tersebut dilakukan Bambang setelah dirinya mengalami tindakan kekerasan berupa pendorongan kepala dan penamparan oleh Brigjen Taufik yang saat itu menjabat Ketua sementara DPRD Jabar.

Namun Bambang membantah adanya surat pengunduran dirinya tersebut. Bambang menegaskan, dirinya tidak pernah mengeluarkan pernyataan pengunduran diri ataupun membuat surat pengunduran diri. 

"Terkait pengunduran diri, enggak ada pernyataan saya untuk mengundurkan diri. BKD (Badan Kepegawaian Daerah) juga belum menerima apa pun," ungkapnya 

Bambang mengatakan, pemberitaan yang menyebutkan mengundurkan diri pasca-insiden tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Pemberitaan di media itu perlu klarifikasi lebih lanjut. Itu sumbernya dari mana, saya enggak tahu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Dia juga enggan mengakui secara tegas bahwa dirinya ditampar oleh Brigjen Taufik. Bambang enggan menyebutkan dengan gamblang apakah dirinya mengalami penamparan dengan cukup keras. 

"Itu mah menampar atau apa tergantung penafsiran masing-masing. Maksud beliau enggak nampar ya," kilah dia.

Namun pernyataan Bambang tersebut bertolak belakang dengan laporan yang disampaikan kepada atasannya, dengan judul 'Kronologis pendorongan kepala dan penamparan'. Dari judul laporan yang diperoleh dari sumber wjtoday tersebut, sudah sangat jelas bahwa Bambang mengalami pendorongan dan penamparan. 

Bahkan di alinea pertama laporannya, Bambang menuliskan, "Pd hari selasa tgl 1 okt 2019 krg lbh pukul 21.40 wib telah terjadi pendorongan kepala dan penamparan oleh ketua sementara bpk brigjen (purn) taufik hidayat."

Pada kalimat berikutnya, Bambang menuliskan, "Pendorongan kepala sebanyak 1 kali yg dilanjutkan dengan penamparan sebanyak 1 kali dg saksi bpk dodi (kasubag perencanaan, arif dan deni (kamdal) dan  beberapa saksi pekerja bangunan yg disertai dengan perkataan kasar yang tidak sepantasnya dikatakan oleh seorang pimpinan,....."


Begitu juga dengan gambar tangkapan kamera close circuit television (CCTV) yang menyebar luas dan sempat viral di media sosial. Dalam rekaman CCTV berdurasi 38 detik tersebut, pendorongan terjadi pada detik ke-21 dan penamparan pada detik ke-29.

Demikian pula soal pengunduran dirinya sebagai Kasubag Perlengkapan dan Pemeliharaan Sekretariat DPRD Jabar, pernyataan Bambang dalam jumpa pers tersebut bertolak belakangan dengan laporan yang dia tulis. 

Soal pengunduran dirinya tersebut, Bambang menuliskannya di alinea terakhir laporannya, yang berbunyi, "Untuk itu saya secara pribadi mengundurkan diri sebagai kasubag perlengkapan dan pemeliharaan sekretariat DPRD Prov Jabar."


Dari hasil penelusuran wjtoday dan informasi dari sumber yang mengetahui peristiwa tersebut, surat laporan kronologi itu memang benar adanya dan benar-benar ditulis oleh Bambang. Laporan berupa foto atau screenshot tersebut menyebar di kalangan terbatas sejak Kamis (3/10/2019) malam. ***

WJT / dms

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya