backgroud
logo

Fokus

 

Gerindra Tak Dapat 'Jatah' Posisi Ketua MPR, Prabowo Dikabarkan Kecewa

Gerindra Tak Dapat 'Jatah' Posisi Ketua MPR, Prabowo Dikabarkan Kecewa

 
Gerindra Tak Dapat 'Jatah' Posisi Ketua MPR, Prabowo Dikabarkan Kecewa
Gerindra Tak Dapat 'Jatah' Posisi Ketua MPR, Prabowo Dikabarkan Kecewa . (tempo.co)
WJtoday
Senin, 7 Oktober 2019 | 20:54 WIB
WJtoday, Jakarta - Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dikabarkan kecewa setelah partainya gagal mendapat kursi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2019-2024. Hal itu diutarakan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani yang sempat menjadi calon ketua MPR.

Kekecewaan muncul lantaran ada rencana rekonsiliasi setelah Pilpres 2019 antara mantan pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin dengan pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 lalu. Akan tetapi, saat proses pemilihan ketua MPR, Gerindra malah tidak diberikan dukungan oleh parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf.

"(Prabowo) Agak kecewa karena katanya kita mau reunifikasi, katanya kita mau rekonsiliasi. Kita minta hanya sekadar ketua MPR enggak ada yang setuju. Kira-kira begitu," kata Muzani di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (7/10/2019).

Proses pemilihan ketua MPR 2019-2024 sempat mengerucut pada persaingan antara Ahmad Muzani dari Gerindra dengan Bambang Soesatyo dari Golkar.

Namun, Muzani tidak mendapat mayoritas dukungan fraksi di MPR. Termasuk PDI Perjuangan. Walhasil kursi ketua MPR akhirnya didapat Bamsoet dari Golkar.

Muzani tak tahu pasti apakah Prabowo dan Megawati Soekarnoputri ada kesepakatan tertentu dibalik pemilihan ketua MPR.

Memang ada pembicaraan yang dilakukan Mega dan Prabowo sesaat sebelum Muzani mundur dari perebutan kursi Ketau MPR. Akan tetapi, Muzani tidak bisa memastikan apa saja yang dibicarakan mereka.

"Saya tidak tahu, tapi saya ambil kesimpulan bisa terkait bisa tidak terkait tapi yang pasti beliau ambil keputusan dan saya nurut saja. Saya ikut," terang Muzani.

Setelah itu, lanjut Muzani, Prabowo langsung melihat kondisi terkini, yakni ketika mayoritas fraksi tidak mendukung Gerindra. Bahkan PAN, PKS dan Demokrat yang merupakan mantan rekan koalisi di Pilpres 2019 juga tidak mendukung Muzani.

"Akhirnya beliau ambil kesimpulan, sudah kita jangan meneruskan (mencalonkan diri sebagai Ketua MPR)," jelasnya.


Gerindra Belum Dipastikan Dapat Kursi Menteri
Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menyatakan Gerindra belum pasti bergabung dalam koalisi pemerintah meski pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin hanya tinggal hitungan hari. Lobi masih terus dilakukan.

Jokowi-Ma'ruf bakal dilantik menjadi presiden-wakil presiden 2019-2024 oleh KPU pada 20 Oktober mendatang usai mengalahkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 lalu.

"Masih terus lobi tingkat tinggi," ujar Hendrawan, seperti dikutip CNNIndonesia.com, Senin (7/10/2019).

Hendrawan belum mau membeberkan kendala yang membuat Gerindra masih belum pasti bergabung dalam koalisi pemerintah. Apakah karena belum ada kesepakatan terkait jabatan menteri atau masih ada partai politik yang belum menerima Gerindra bergabung dalam koalisi.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Gerindra Sugiono mengatakan hal serupa. Dia menegaskan bahwa partainya bersikukuh mengajukan konsep untuk membangun Indonesia ke depan.

Ada beberapa konsep yang diajukan. Akan tetapi, dia lebih menggarisbawahi soal ketahanan pangan dan energi terbarukan. Gerindra ingin orang pilihannya sendiri yang menjadi pimpinan pelaksana konsep tersebut.

Apabila konsep diterima tapi dijalankan bukan oleh orang pilihan Gerindra, maka partai yang diketuai Prabowo Subianto itu menolak untuk berkoalisi dengan pemerintah.

"Untuk mewujudkan itu, jika seandainya Gerindra diminta untuk bergabung, syaratnya adalah program dan konsep tersebut harus dijalankan. Untuk itu ada beberapa pos yang harus dipegang untuk menjamin pelaksanaan program tersebut," ungkap Sugiono. 

Berdasarkan informasi yang diperoleh CNNIndonesia.com dari petinggi partai politik mantan pengusung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019, mengatakan masih ada sisa satu kursi menteri. Gerindra berambisi mendapatkan kursi tersebut.

Gerindra meminta pos itu sekaligus meminta dukungan untuk memperoleh ketua MPR. Akan tetapi, satu keinginan Gerindra bertepuk sebelah tangan, yakni soal Ketua MPR.

Gerindra gagal mendapatkan posisi ketua MPR lantaran mayoritas fraksi mendukung Bambang Soesatyo dari Golkar pada Kamis lalu (3/10/2019).

Mengenai kabar tersebut, Sugiono menampik. Dia mengatakan bahwa partainya tidak meminta menteri. Sebaliknya, justru koalisi Indonesia Kerja yang menawarkan jabatan.

Sejauh ini, Gerindra masih lebih ingin konsep-konsepnya diterima untuk membangun Indonesia ke depan. Karenanya, jabatan menteri yang ditawarkan masih belum pasti diterima.

"Terus terang Gerindra tidak pernah meminta kursi menteri di Kabinet. Pihak 01 yang menawarkan kursi kabinet itu ke Gerindra," terang Sugiono beberapa waktu lalu.

Pada 2014 lalu, Jokowi-Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Kemudian, sepekan setelahnya, mereka mengumumkan menteri-menteri kabinet. Jika  Jokowi, pada tahun ini, kembali mengumumkan menteri kabinet sepekan setelah pelantikan seperti 2014 lalu, maka Gerindra masih berpeluang, karena memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan lobi.***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya