backgroud
logo

OPINI

 

Rektor Unpad Terpilih: Sebuah Skandal?

Rektor Unpad Terpilih: Sebuah Skandal?

 
Rektor Unpad Terpilih: Sebuah Skandal?
Prof Rina bersalaman dengan Ketua MWA Rudiantara seusai dilantik sebagai Rektor Unpad. (unpad.ac.id)
WJtoday
Kamis, 10 Oktober 2019 | 05:09 WIB
REKTOR Universitas Padjadjaran (Unpad) terpilih adalah senior saya di Fakultas Ekonomi (FE) Unpad.

Saya mengenalnya sebagai orang yang jujur dan berdedikasi. Tetapi beliau bukanlah orang yang terkenal sebagai pemikir.

Beliau akan menjadi administrator yang baik tetapi untuk sebuah perubahan yang mengangkat Unpad menjadi perguruan tinggi (PT) terkemuka di kawasan kita mesti mengandalkan tokoh-tokoh Unpad lain. 

Menurut pengamatan saya, beliau memang sudah diplot menjadi rektor Unpad. Jenjangnya sudah disiapkan dengan menjadi birokrat di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). 

Pertanyaan saya apakah beliau nanti bersedia menjadi bagian dari ideological state apparatus? 

Pertanyaan ini perlu dilontarkan sebab negara telah melancarkan perang ideologi di kampus-kampus dengan mengembuskan isu deradikalisasi. 

Dalam kampanye itu negara menindas apa yang mereka sebut Islam politik, dan hanya merayakan Islam kultural. Sebetulnya di balik kampanye itu ada usaha keras untuk menegakkan negara sekuler. Upaya ini tidak sejalan dengan konstitusi kita, menurut saya.

Kembali ke pertanyaan di atas, menurut saya Rektor Unpad terpilih adalah seorang akademisi berkualitas. Akademisi memiliki kebebasan mimbar dan kebebasan akademik. Upaya ideologisasi kampus akan dihadapkan dengan pisau analisis sains. Ideologi-ideologi ngawur akan tersisih dengan sendirinya.

Walau begitu sangat sulit bagi rektor PT manapun untuk melawan penguasa yang ingin menjadikan kampus sebagai aparatus ideologi negara. Kekuasaan anggaran, demosi dan promosi berada di luar mereka, dan besar kemungkinan akan mengalahkan kemandirian akademis. 

Dalam jangka pendek, ideologi negara sekuler akan terus didengungkan. Kampanye ideologi itu akan terus diperluas kalau perlu sampai RT/RW. 

Kampanye tersebut akan kalah karena bertentangan denga konstitusi dan aspirasi rakyat. Perlawanan sudah dimulai, baru baru ini mahasiswa pun bergerak. 

Sistem politik yang busuk dan tidak memiliki landasan rasional yang kokoh gagal menjawab tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh gerakan-gerakan protes itu. Satu-satunya cara respons 
mereka adalah dengan kekerasan. Kekerasan fisik maupun verbal berumur pendek.

Sejarah mengajarkan bahwa rezim-rezim otoriter pasti tergulung. Dengan kemajuan teknologi mereka akan terbasmi lebih cepat.

Di dalam pemilihan rektor Unpad ini, penguasa telah memainkan semua kartu mereka. Calon pesanan, aklamasi, dan seterusnya. Puncak tertinggi telah dicapai, sekarang tinggal tunggu jatuhnya saja. ***

Radhar Tribaskoro SE MSi
Alumnus Universitas Padjadjaran

WJT / dms

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya