backgroud
logo

OPINI

 

Nafas Kreativitas yang Pernah Membuat Bandung Selalu Tersenyum

Nafas Kreativitas yang Pernah Membuat Bandung Selalu Tersenyum

 
Nafas Kreativitas yang Pernah Membuat Bandung Selalu Tersenyum
Nafas Kreativitas yang Pernah Membuat Bandung Selalu Tersenyum. (twitter.com)
WJtoday
Minggu, 20 Oktober 2019 | 17:33 WIB
WJtoday, Bandung - Kreativitas adalah nafas Bandung. Sepeda motor hasil modifikasi, yang sekarang menjadi tolok ukur sikap kreatif, pada masa saya berangkat remaja menjadi salah satu bagian pergaulan di wilayah Turangga dan Buahbatu, apapun motornya. “Chopper” adalah gayanya. 

Dalam refleksi saya, para pendahulu motor modifikasi ini mungkin pula terpengaruh oleh film “Harley Davidson and The Marlboro Man”. Bahkan salah seorang teman saya pernah menjadi “El Presidente” salah satu klub motor terkenal di Kota Bandung, dan dia berasal dari rahim wilayah yang sama. 

Balap peti kereta sabun, yang diadakan oleh DAMAS (Daya Mahasiswa Sunda), adalah kegiatan anak muda Bandung yang cukup berbekas di benak saya. Sederhana saja: peti dibuat dari kayu, diberi roda sepeda tanpa pedal, memakai rem, dan dipertandingkan seperti balap mobil di turunan Jalan Sukajadi. Tontonan yang bergizi. Kreativitas diutamakan, sportivitas menjadi pemeran utama.  
 
Saya bertetangga juga dengan rumah yang berisi para mahasiswa dari ITB, Unpad, dan Unpar. Mereka aktif membina Karang Taruna dan Pramuka di wilayah kami. Salah satu acara yang pernah mereka selenggarakan adalah kemping bersama di daerah Cisarua, Lembang. Saya pernah ikut acara tersebut dengan kelompok Pramuka Siaga. 

Acara lain yang cukup mengendap dalam ingatan adalah perayaan Natal di lapangan “BonSar”. Salah satu mahasiswa menjadi “Piet Hitam” dan yang lain menjadi “Sinterklas”. Menarik sekali. Tidak ada yang berteriak kenapa kami merayakan hari besar agama tertentu. Tentu saja, sebagian besar hadirin adalah Muslim. 

Bahkan di ujung jalan tinggal keluarga ulama. Saya ingat betul salah seorang anak ulama tersebut menjadi panitia kegiatan. Penyadaran yang saya dapat: “kebersamaan adalah niat dalam keberagaman”. 

Tentu saja, kegiatan seperti itu sangat sulit dilakukan pada saat sekarang, dan saya hampir lupa, ke mana perginya para mahasiswa saat ini. 

Santun adalah wajah masyarakat kota Bandung. Mobil ayah saya adalah Toyota Corona warna biru. Apabila ada masa luang, beliau menyempatkan diri untuk menjemput saya di taman kanak-kanak. Tidak langsung pulang, biasanya saya diajak makan ke warung sate seputar stasiun lama. 

Apabila di perempatan, pertigaan atau perduaan jalan ada mobil yang akan sama-sama melintas, maka mereka akan saling memberi jalan. Setelah itu, siapapun yang terlebih dahulu jalan akan melambaikan tangan atau mengangkat tangan sebagai tanda terima kasih sambil tersenyum. 

Mungkin mereka tidak saling mengenal, tapi saya rasa itu adalah cara sederhana dalam konteks saling menjaga rasa. Jarang sekali saya bisa dapatkan memori yang sama sekarang. Beradu ego, emosi sudah menjadi hal yang lumrah kita lihat di jalanan sekarang. 

Pada masa masa kecil saya, semua tempat di kota Bandung adalah tempat yang menarik. Rumah nenek kami, di Jalan Siti Munigar, dekat Dalem Kaum, adalah tempat yang sangat strategis untuk melahap semua jenis makanan yang lezat: Roti Sidodadi, Sate Pelana, Lotek Kalipah Apo, atau Laksa yang mangkal di depan rumah. Bahkan Mi Kocok yang didorong dengan roda, untuk ukuran rasa, tidak pernah gagal. 

Selain itu, udara Bandung sangat segar. Saat saya keluar rumah untuk sekolah di pagi hari sering saya disapa oleh kabut yang cukup tebal. Sulit bagi kami untuk membandingkan Bandung dengan tempat lain sebagai tempat tinggal. 

Kakak saya yang paling besar pernah diterima menjadi salah seorang pengajar di Politeknik Negeri dan ditempatkan di luar Jawa. Tidak sampai satu tahun dia bergegas kembali ke Bandung untuk melamar menjadi pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri, dan melepaskan kesempatan melanjutkan sekolah di luar negeri. Bandung memang tidak pernah tergantikan.

Ketika saya menginjak dewasa, di seputar Jalan Dago ada sekotak taman yang dikenal sebagai Taman Flexi. Itulah surga bagi anak-anak muda saat itu, karena di seberang taman ada tempat penjual minuman keras. Sangat praktis dan mudah, beli minuman keras dicampur dengan isotonik di dalam plastik, masuk kembali ke dalam taman dan terbang bersama teman-teman. Tidak gaduh. 

Dunia seputar taman cukup mewakili kehidupan. Belakangan julukan taman itu berubah menjadi “Taman Setan”. Sekarang taman tersebut masih ada tapi sudah dipagar. Setan sudah tidak bisa masuk. 

Para penggemar terbang dengan Amfetamin atau Metamfetamin bahkan bisa berpesta bebas di seputar kampus di Jalan Dipati Ukur. Penjual dan pembeli berbaur secara egaliter. Apabila anda terbang terlalu tinggi dan tiba-tiba menggelepar, tinggal dibawa ke rumah sakit terdekat di Jalan Dago. Tidak lebih dari 5 menit perjalanan, sampai di Unit Gawat Darurat. 

Kalau ditangani dan selamat, satu minggu kemudian bisa berjumpa lagi di kampus. Apabila Tuhan tidak mengizinkan, maka mereka akan kehilangan salah satu anggota terbaik. Kelam memang, tapi itulah Bandung dengan sekelumit kehidupan gelap.

Para tetua telah mendahului kami. Ama mangkat tahun 2004, Ambu tiga tahun lalu. Para tetangga Tionghoa juga sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Oom Tobias meninggal karena kanker liver. Tante Hendra terkena kanker payudara. Nyonya Pang paling lama hidup, meninggal karena usia tua. Para penjelajah keragaman meninggalkan sejarah dalam hidup saya. 

Hidup berdampingan memang menyenangkan. Para mahasiswa tidak pernah saya temui setelah sekian lama. Pernah beberapa di antara mereka bertamu ke rumah kami, sekadar bertukar sapa. Saya menyesal tidak pernah berkata kepada mereka bahwa mereka telah cukup memberikan gizi bagi kehidupan saya. 

Rumah kenangan akhirnya kami tinggalkan. Rumah kami sudah bergeser ke wilayah atas kota Bandung, di perbatasan antara Utara dan Timur. 

Kini, warga Bandung sudah lupa mengangkat tangan kalau berpapasan, cenderung ingin didahulukan, bahkan tidak sedikit yang mengakibatkan mereka terkapar.  

Tenggang rasa menjadi barang langka, adu kekuatan menjadi kebiasaan. Atmosfer Bandung sudah kurang memadai untuk sekadar memberi kesempatan. 

Betapapun, harapan masih tersimpan dalam diri, agar warga Bandung dapat tersenyum kembali.*** 


(Tata Kartasudjana - Pengajar di DKV FISS Unpas)

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya