backgroud
logo

Buletin

 

Sampah dari Kota Bandung ke DAS Citarum Sekitar 18,5 Ton/Hari

Sampah dari Kota Bandung ke DAS Citarum Sekitar 18,5 Ton/Hari

 
Sampah dari Kota Bandung ke DAS Citarum Sekitar 18,5 Ton/Hari
Pemkot Bandung Pasang Jaring Sampah di 37 Titik Aliran Sungai. (RMOL.jabar)
WJtoday
Selasa, 5 November 2019 | 16:56 WIB
WJtoday, Bandung - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung mencatat rata-rata ada sekitar 500 kilogram sampah per hari yang berada di setiap 37 jaring sampah yang tersebar di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Dengan jumlah sampah tersebut, ada kurang lebih 18,5 ton sampah per hari yang dibuang ke 33 anak Sungai Citarum di wilayah Kota Bandung.

Kepala Seksi Peningkatan Kapasitas Dan Edukasi DLHK Kota Bandung, Syahriani menyebut sampah tersebut terdiri dari berbagai jenis sampah, bahkan juga sampah perabotan rumah tangga.

"Itu banyaknya (sampah) kalau sungainya dekat dengan pasar, setiap hari ada sekitar 400 sampai 500 kilogram sampah yang ada di jaring yang kita pasang," kata Syahrini di Balaikota Bandung, Selasa (5/11/2019).

Syahriani menuturkan, sejak 2018 lalu hingga kini sudah terpasang jaring di 37 titik aliran sungai. Di penghujung 2019 ini pun pemasangan masih terus dilakukan.

Dia  menyebutkan, pada 2018, DLHK memasang jaring di 24 titik. Sedangkan di tahun 2019 telah memasang 13 titik. Saat ini, ada 23 titik lainnya yang masih dalam proses pemasangan. Setiap titik mampu menampung sekitar 400-500 kilogram sampah.

“Macam macam jenis sampah. Apalagi kalau dekat pasar kebanyakan memang masih sampah rumah tangga. Justru kadang kalau hujan gini dimanfaatkan buat membuang sampah,” ungkapnya di acara Bandung Menjawab, Selasa (5/11/2019), di Ruang Media Balai Kota Bandung.

Namun Syahriani mengakui ada kendala di musim hujan. Jika intensitas tinggi dan arus air menjadi semakin deras berpotensi merusak jaring.

“Jaring sampah itu efektif untuk aliran sungai yang stabil. Kalau musim hujan seperti saat ini bukan hanya sampahnya, tapi jaringnya juga terbawa arus karena arusnya deras,” akunya.

Untuk itu, DLHK Kota Bandung berkolaborasi dengan Satgas Citarum Harum serta aparat kewilayahan, untuk menyiagakan petugas mengawasi keberadaan jaring.

“Kita bekerja sama dengan satgas dan kewilayahan untuk mengangkut jaring sampah tersebut. Jadi kalau hujan atau arus besar tidak terpasang. Sejauh ini ada 7 titik yang mengalami kerusakan tapi sebagian sudah dipasang kembali,” jelasnya.

Selain mengurangi sampah di sungai, Syahriani menyatakan, fungsi utama jaring ini untuk mengetahui sumber sampah yang masuk. Terlebih di sejumlah sungai sudah terpasang jaring lebih dari satu titik sehingga bisa mendeteksi sumber sampah.

Hal itu dapat menjadi r ujukan bagi tim DLHK untuk menyosialisasi dan mengedukasi masyarakat. Utamanya, bagi penduduk yang rumahnya berada di dekat bantaran sungai.

“Target kita bukan berapa banyak jaring yang terpasang tapi sosialisasi dan edukasi masarakat. Kalau kita sudah tahu sumber sampahnya, kita akan edukasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai,” terangnyya.

DLHK mengimbau warga Kota Bandung tidak membuang sampah ke sungai karena bisa menyumbat aliran air. Penyumbatan oleh tumpukan sampah tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya luapan air sungai.

“Kalau masyarakat membuang sampah ke sungai dan kita tidak lakukan persiapan, pasti tetap terjadi (luapan). Makanya jangan buang sampah sembarangan kemudian lakukan program Kang Pisman,” pungkas  Syahriani. ***

WJT / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya