backgroud
logo

Fokus

 

Soal Pelaporan Dirinya oleh Kader PDIP, Novel Baswedan: Ngawur itu

Soal Pelaporan Dirinya oleh Kader PDIP, Novel Baswedan: Ngawur itu

 
Soal Pelaporan Dirinya oleh Kader PDIP, Novel Baswedan: Ngawur itu
Soal Pelaporan Dirinya oleh Kader PDIP, Novel Baswedan: Ngawur itu. (antara)
WJtoday
Kamis, 7 November 2019 | 21:50 WIB
WJtoday, Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyatakan aksi kader PDIP Dewi Tanjung yang melapor ke polisi bahwa teror air keras terhadap dirinya sebaga rekayasa itu tak berdasar.

"Ngawur itu," kata Novel, Kamis (7/11/2019).

Dewi melaporkan dugaan rekayasa penyiraman air keras kepada Novel itu ke Polda Metro Jaya pada Rabu (6/11/2019). Ia menyebut kasus itu rekayasa karena Novel tak memiliki bekas luka bakar di kulit wajahnya.

Atas pernyataan tersebut, Novel menilai bahwa Dewi mempermalukan dirinya sendiri.

"Kata-kata orang itu jelas menghina lima rumah sakit, tiga rumah sakit di Indonesia dan dua rumah sakit di Singapura," jelas Novel.

Secara terpisah, tim Advokasi Novel Baswedan menilai laporan dugaan rekayasa penyiraman air keras oleh Dewi Tanjung ke polisi sebagai bentuk fitnah.

"Ini tindakan yang sudah mengarah pada fitnah dan merupakan tindakan di luar nalar dan rasa kemanusiaan," kata salah satu kuasa hukum Novel, Alghiffari Aqsa, seperti dikutip  CNNIndonesia.com, Kamis (7/11/2019).

Alghiffari mengatakan penyerangan yang mengakibatkan kliennya mengalami kebutaan sudah jelas dan telah terbukti sebagai fakta hukum.

Penyiraman air keras telah dibuktikan dengan hasil tim gabungan Polri yang menyebut cairan yang digunakan untuk menyerang Novel adalah asam sulfat (H2S04). Pun juga dengan beberapa kali pengobatan di sejumlah rumah sakit yang satu pun tidak menyebut adanya kebohongan. Apalagi, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sampai memberi tenggat waktu kepada Kapolri untuk menyelesaikan kasus penyerangan air keras terhadap Novel.

"Secara tidak langsung pelapor sebenarnya telah menuduh bahwa kepolisian, Komnas HAM termasuk Presiden tidak bekerja berdasarkan fakta hukum benar," ujar Aghiffari.

Di satu sisi, ia pun menduga laporan tersebut sebagai bentuk kriminalisasi terhadap Novel. Dewi, ujar dia, tidak berbeda jauh dengan para pendengung alias buzzer yang acapkali menjatuhkan KPK.

Alghiffari pun menduga laporan itu bertujuan untuk menggiring opini publik agar mengaburkan dukungan kepada upaya penuntasan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan. Selain itu juga terhadap penolakan pelemahan KPK dan gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia secara keseluruhan.

"Laporan ini dilakukan bersamaan waktunya dengan desakan publik tentang penerbitan Perppu KPK dan desakan agar kasus penyiraman mata Novel, penyidik KPK, segera dituntaskan. Sehingga, menimbulkan pertanyaan mengapa laporan ini dilakukan saat ini mengingat kasus ini sudah berjalan hampir 3 tahun," kata Alghiffari.

Atas dasar itu Tim Advokasi Novel menyampaikan sejumlah sikap. Pertama, mendesak Polisi untuk menghentikan laporan dugaan rekayasa penyiraman air keras Novel Baswedan. Kedua, Tim Advokasi akan mengambil langkah hukum baik perdata maupun pidana terkait dengan fitnah yang ditujukan Novel.

Kader PDIP Dewi Tanjung yang melapor ke polisi bahwa teror air keras terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan sebaga rekayasa.

Akan Laporkan Balik Dewi Tanjung
Novel Baswedan melalui tim kuasa hukumnya bakal melaporkan balik politikus PDIP Dewi Tanjung ke polisi atas pelaporan mengenai dugaan rekayasa penyiraman air keras.

Anggota Tim Kuasa Hukum Novel, Saor Siagian mengatakan Dewi telah melakukan kebohongan karena menilai peristiwa penyiraman air keras sebagai sesuatu yang direkayasa. Dia akan melaporkan balik Dewi pada pekan depan.

"Kami sepakat, tim kuasa hukum sepakat, kemudian diminta oleh Novel untuk segera juga melakukan tindakan hukum. Oleh karena itu kami akan melakukan pelaporan terhadap pidananya," kata Saor Siagian di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Kebohongan yang dilakukan Dewi dalam laporannya, kata Saor, dapat dilihat dari sejumlah peristiwa, seperti hasil penyelidikan Tim Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM dan Tim Gabungan bentukan Polri yang sepakat bahwa Novel diserang dengan air keras.

Bahkan, Tim Gabungan Polri menyatakan cairan yang digunakan untuk menyerang Novel adalah asam sulfat (H2S04). Selain itu, juga ada permintaan dari Presiden Joko Widodo kepada mantan Kapolri Tito Karnavian untuk mengungkap kasus tersebut dalam waktu tiga bulan menunjukkan bahwa ada fakta hukum yang membenarkan Novel diserang.

Lebih lanjut, Saor menyoroti perihal rekam medis pengobatan Novel yang tak satu pun menyebut bahwa penyidik KPK tersebut merekayasa kejadian.

"Rekam medis itu tidak bisa dibohongi, itu adalah profesional dokter saya minta misalnya dia cek ke rumah sakit waktu dia [Novel] diserang. Kemudian Kapolri datang karena saya ada di sana, Kapolda datang memastikan dan kemudian negara membiayai apa namanya pengobatan saudara Novel ini sampai ke Singapura," terangnya.

Novel, tutur Saor, merasa terpukul dengan pelaporan yang menyebut dirinya merekayasa penyiraman air keras. Menurut Saor, tindakan politikus PDIP tersebut di luar batas kemanusiaan.

Dia menambahkan sebaiknya Dewi mengunjungi Novel secara langsung untuk mengecek keadaan yang sebenarnya dibanding membuat kesimpulan yang tidak berdasar.

"Saya mengatakan, saya kira tidak ada lagi unsur kemanusiaannya si pelapor ini," ujarnya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan pihaknya sedang mempelajari laporan dugaan rekayasa penyiraman air keras Novel Baswedan.

"Laporannya sudah masuk dan kita sedang pelajari, kita lakukan penyelidikan," ujar Argo ketika dikonfirmasi, Kamis (7/11/2019). ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


   

Terkini

 

Berita Lainnya