backgroud
logo

Bisnis

 

Gubernur Bawa Buku Menu Investasi di Jawa Barat ke Jepang

Gubernur Bawa Buku Menu Investasi di Jawa Barat ke Jepang

 
Gubernur Bawa Buku Menu Investasi di Jawa Barat ke Jepang
Gubernur Bawa Buku Menu Investasi di Jawa Barat ke Jepang. (humas.jabarprov.go.id)
WJtoday
Sabtu, 9 November 2019 | 14:35 WIB
WJtoday, Osaka - Menawarkan peluang investasi merupakan salah satu agenda utama dalam lawatan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil ke Korea dan Jepang pada 4 hingga November 2019.  Peluang-peluang ini disusun dalam buku menu investasi Jabar yang dibagikan dalam setiap forum bersama mitra pemerintah atau kalangan pengusaha.

Hal yang sama dilakukan rombongan delegasi Jabar yang dipimpin Gubernur Ridwan Kamil dalam West Java Business Forum di Osaka, Jumat (8/11/2019).

Forum tersebut dihadiri para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang Osaka juga pemerintah setempat, antara lain perusahaan Shoji Co,ltd, Obayashi Cooperations, Daiwa House Industri Co,ltd, Araya Industrial, Daiki Alumunium, hingga Jetro Osaka.

Emil mengatakan, buku menu investasi tersebut berisi proyek-proyek strategis Jabar dengan total nilai investasi US$59 juta. Termuat peluang-peluang investasi mulai dari transportasi, pengelolaan air minum, pengelolaan sampah hingga pengembangan kawasan. 

“Di bidang transportasi, kami membutuhkan jalan tol baru, jalur kereta api baru, kami butuh bandara baru, dan pelabuhan baru,” kata Emil.

Di sektor energi, pihaknya tengah mendorong pengelolaan sampah yang bisa menghasilkan energi (waste to energy). Menurutnya, Jabar membutuhkan 4-5 proyek pengelolaan sampah ini dibangun di sejumlah lokasi.

“Kami membutuhkan 4-5 proyek, mudah-mudahan ada perusahaan Jepang yang tertarik apapun bentuk teknologi waste to energy-nya. Kami harus memastikan 50 juta penduduk masuk pada peradaban modern. Nilainya 3-4 triliun rupiah, ini kami butuhkan sampai 5 lokasi,” ungkap Emil.

Kawasan Rebana (Patimban-Kertajati-Cirebon) juga menjadi menu dalam buku tebal tersebut. Kawasan yang berada di wilayah Utara Jabar ini, menurutnya, membutuhkan banyak investasi mengingat pihaknya sudah mendesain Rebana menjadi kawasan futuristik ke depan. Kawasan ini juga menjadi sangat potensial mengingat dari sisi infrastruktur begitu lengkap.

“Daerah ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Ini wilayah dimana pelabuhan terbesar berdekatan dengan bandara terbesar. Pelabuhan (Patimban)-nya tengah dibangun dibiayai pemerintah Jepang, berdekatan dengan Bandara Kertajati yang sudah beroperasi. Tanahnya masih murah, upah buruh salah satu paling rendah di Jawa Barat,” papar Emil kepada para mitra bisnis yang hadir.

Investasi di kawasan ini bagi pengusaha Jepang, jelas Emil, akan menguntungkan. Ketersediaan konektivitas akan memudahkan proses pengiriman barang ekspor dan impor. Selain itu, kebijakan pemerintah Indonesia yang akan memberikan diskon pajak besar bagi perusahaan manufaktur yang membuka fasilitas vokasi bagi warga lokal adalah peluang yang langka.

“Jadi kalau nanti berinvestasi di Jawa Barat, ekspor kemana-mana akan mudah karena pelabuhannya didesain kelas dunia yang dibangun kontraktor Jepang. Tahun depan ada kebijakan baru, jika Anda membawa manufaktur dan memberikan fasilitas vokasi untuk warga lokal maka akan mendapat potongan pajak hingga 300%,” papar Gubernur.


Sebagai daerah yang penghasil komoditas perkebunan, pihaknya juga membuka peluang para pengusaha Jepang untuk membangun industri hilir komoditas tersebut. Emil mengakui, sebagai daerah produsen buah-buahan tropis pihaknya belum bisa memberikan nilai tambah pada produk tesebut. 

“Mudah-mudahan ada pengusaha makanan Jepang yang bisa mengubah produk-produk makanan dari komoditas ini makin bernilai ekonomi,” cetus Emil.

Keberadaan pelabuhan serta bandara, menurutnya, juga menjadikan peluang ekspor komoditas dari Jabar ke Jepang terbuka lebar.  Salah satunya datang dari potensi produk maritim Jabar. 

“Kami memiliki lobster terbaik dan produk maritim lain, kami juga bisa menjadi tempat produksi rumput laut,” sebutnya.

Menurut Emil, dalam potensi proyek serta komoditas yang bisa ditangkap para pengusaha Jepang ini pihaknya juga memiliki sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta 15.000 perusahaan yang berada di bawah Kadin Jabar untuk digandeng bekerjasama. 

“Ini jika Jepang membutuhkan mitra lokal dalam investasi,” ucap Emil.

Perkara kemudahan, Gubernur memastikan penerapan teknologi dalam pelayanan publik seperti perizinan sebagai salah satu upaya memudahkan para investor berinvestasi. Menurutnya. dengan teknologi, pihaknya mengurangi pertemuan antara warga dan birokrasi guna mengurangi kendala di lapangan. 

“Kami mendahulukan aktifitas ekonomi ketimbang proses birokrasi,” tegas  Gubernur. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya