backgroud
logo

Inspirasi

 

Enny Arrow, Legenda Sastera Erotisme dari Hambalang Bogor

Enny Arrow, Legenda Sastera Erotisme dari Hambalang Bogor

 
Enny Arrow, Legenda Sastera Erotisme dari Hambalang Bogor
Enny Arrow, Legenda Sastera Erotisme dari Hambalang Bogor. (youtube)
WJtoday
Senin, 11 November 2019 | 14:35 WIB
WJtoday, Bandung - Novel dan cerita pendek (cerpen) adalah karya dari seorang penulis yang ingin namanya tenar seperti JK Rowling yang sukses dengan sekuel Harry Potter, atau penulis Andrea Hirata yang sukses dengan trilogi laskar pelangi.

Namun bagaimana kalau banyak penulis yang tidak ingin terkenal hanya menggunakan nama anonim bahkan tak ingin tampil menonjol melalui publisitas. Salah satunya adalah Enny Arrow, penulis yang namanya begitu populer terutama di kalangan remaja era tahun 1980-an.

Enny Arrow pada masa itu  disuka oleh anak muda zaman, kini penulis itupun telah menjadi legenda. Siapa yang tak mengenal karya sang penulis receh yang banyak di gemari oleh pemuda tanggung di zamannya. Para remaja kala itu menyebutnya dengan 'stensilan'.

Enny Arrow seperti hantu hingga pemerintah saja tak tahu siapa penulis recehan yang karyanya di cetak di kertas berwarna kuning, sering dibilang kertas stensil kertas yang murah namun kertas ini selalu saja dicari untuk kawula muda yang penasaran apa itu sih seni bercinta. 

Masyarakat hanya dicekoki karyanya saja tapi tak pernah mengenal penulisnya karena cerita yang ditulis memang dianggap hal yang tabu.

Hingga terungksplah sosok Enny Arrow yang kisahnya berbeda dengan karyanya, ternyata ia bukanlah seorang recehan. Ia pernah tinggal di Amerika dan menjadi copy writer hingga akhirnya kembali ke Indonesia dan mulai menulis karya sastra yang erotis.

Walau ada yang tidak suka dengan karyanya tapi Enny Arrow tetap saja menulis bahkan karyanya lebih di kenal oleh masyarakat kelas bawah, penerus Enny Arrow ini banyak di forum tetangga yang menulis cerita erotis tanpa mengharap kekayaan. 

Namun perlu di ingat setiap karya akan abadi bila mengajarkan hal buruk sebuah karya maka ia akan abadi begitu juga sebaliknya. Enny Arrow, adalah nama yang begitu melekat dalam dunia penulisan Indonesia pada tahun 1977-1992, karya-karyanya adalah yang paling banyak dibaca generasi muda Indonesia

Terlahir dengan nama Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Desa Hambalang, Bogor tahun 1924. Memulai karirnya sebagai wartawan pada masa pendudukan Jepang, belajar Steno di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. 

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein yang mengamati jalannya pertempuran di seputar wilayah Bekasi.

Pada tahun 1965 Enny Sukaesih menulis karangan dengan judul "Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta" karangannya ini merupakan pertama kali ia mengenalkan nama samaran sebagai "Enny Arrow" 

Kata Arrow ia dapatkan sesuai dengan nama toko penjahit di dekat Kalimalang yang bernama Tukang Djahit "Arrow", di toko tempat penjahit itulah Enny Sukaesih pernah bekerja sebagai penjahit pakaian.

Setelah Gestapu 1965, suasana politik tidak menentu, Enny Arrow kemudian berkelana ke Filipina pada bulan Desember 1965, dari Manila ia pergi ke Hong Kong dan kemudian ia mendarat di Seattle Amerika Serikat pada bulan April 1967.

Di Amerika Serikat Enny Arrow belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck, setelah menemukan irama Steinbeck, Enny Arrow mencoba menuliskan beberapa karyanya di koran-koran terkenal Amerika Serikat, salah satu karya Enny Arrow adalah novel dengan judul : "Mirror Mirror".

Pada tahun 1974 dia kembali ke Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan asing sebagai copy writer atas kontrak-kontrak­ bisnis. 

Semasa kerjanya ini Enny Arrow rajin menuliskan karya sastra yang amat bermutu, karya sastranya yang disebut-sebut mengalahkan popularitas Ali Topan Anak Jalanan adalah "Kisah Tante Sonya". Pada tahun 1980 karya Enny Arrow mendapatkan sambutan yang luar biasa di banyak penerbit-penerb­it rakyat di sekitaran Pasar Senen.

Enny Arrow bukan saja penulis yang berkibar karena karya-karyanya,­ ia juga merupakan penantang atas sastra-sastra yang berpihak pada kaum pemodal, sampai pada kematian Enny Arrow pada tahun 1995 tak satupun orang Indonesia tau siapa Enny Arrow, dan dia menolak bukunya dijual di toko-toko buku besar.

Enny Arrow adalah mutiara terbesar Indonesia pada era Orde Baru. Meski karya-karyanya oleh beberapa kalangan di anggap mesum tetapi kemampuannya membangun imajinasi para pembacanya sangat luar biasa.

Bagaimanapun Enny adalah the Legend. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Lainnya