backgroud
logo

Buletin

 

BPBD: Ubah Mindset Manajemen Kebencanaan ke Orientasi Pencegahan

BPBD: Ubah Mindset Manajemen Kebencanaan ke Orientasi Pencegahan

 
BPBD: Ubah Mindset Manajemen Kebencanaan ke Orientasi Pencegahan
SMPN Kertasari Kab Bandung yang terendam banjir pada Sabtu, 7/12/2019. (AyoBandung.com)
WJtoday
Minggu, 8 Desember 2019 | 10:11 WIB
WJtoday, Bandung - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat (Jabar) Supriyatno menyerukan bupati dan wali kota mengubah mindset manajemen kebencanaan agar lebih berorientasi pencegahan dibandingkan penanganan pascabencana.

“Dimulai dari memperbesar anggaran buat pencegahan bencana,” ujar Supriyatno, Minggu (8/12/2019).

Pencegahan bencana meliputi anggaran untuk penghijauan, diklat taruna siaga bencana (tagana), serta edukasi masyarakat melalui berbagi kampanye. 

“Anggaran buat logistik sangat penting, tapi tidak kalah penting buat pencegahan bencana. Logikanya, kalau bencana dapat dicegah, otomatis biaya penanganan bencana tidak akan keluar alias dapat dihemat,” kata Supriyatno. 

Supriyatno melihat tren di pemerintah kabupaten/pemerintah kota anggaran pencegahan gapnya terlalu lebar dengan anggaran pascabencana. 

“Harus sudah mulai diseimbangkan. Mindset kita tentang bencana harus diubah,” imbuhnya.    
 
Seruan Kepala BPBD berkaca dari banjir bandang di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jumat (6/12/2019) sore. Diketahui Kertasari merupakan dataran tinggi sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut dengan suhu minimum 12 derajat celcius. 

Menurut Supriyatno, banjir di dataran tinggi biasanya bersifat bandang yang lebih berbahaya dibandingkan banjir dataran rendah. Arusnya yang deras  dapat membawa material apa saja dari pegunungan seperti kayu dan sampah. 

“Di Kertasari, selain ada satu SD terendam, dilaporkan dua sepeda motor dan empat unit mobil terbawa arus. Ini membahayakan,” sebut Supriyatno. 

Banjir bandang di Kertasari menandakan kondisi lingkungan di daerah sekitarnya telah rusak. Kertasari berbatasan di sebelah utara dan selatan dengan Kabupaten Garut, sebelah timur dengan Kecamatan Pacet, sementara sebelah barat dengan Kecamatan Pangalengan.  

“Kita lihat bencana di dataran tinggi seperti Kertasari dan Pangalengan mulai sering terjadi akhir- akhir ini. Kita tidak boleh menutup mata bahwa alam semakin dirusak yang namanya pembangunan. Jangan sampai benteng terakhir Jabar ini akhirnya jebol juga,” kata Supriyatno.


Kolaborasi pun harus dilakukan. Supriyatno mencontohkan upaya pencegahan bencana yang dapat jadi contoh adalah pemulihan DAS Citarum wilayah Kawasan Bandung Utara (KBU), Caringin Tilu di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang akan digelar, Senin (9/12/19). 

Acara ini melibatkan BNPB, Pemdaprov Jabar, bupati/wali kota Bandung Raya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang dikemas dengan pendekatan budaya melibatkan seniman dan budayawan Jawa Barat. Rencananya akan ada penanaman bibit pohon produktif dan launching e-Tanam. 

“Pencegahan bencana yang seperti ini yang harus direplikasi di kabupaten/kota lainnya,” kata Supriyatno.  

Nihil Korban 
BPBD Jabar sudah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Didapat informasi bahwa selama November - Desember ini Jabar memasuki musim pancaroba peralihan dari kemarau ke hujan. Ditandai dengan hujan intensitas tinggi yang tidak merata dan durasinya singkat, dan sifatnya yang disertai petir dan angin puting beliung. 

Bersamaan dengan banjir bandang di Kertasari, BPBD juga telah menerima laporan bencana di daerah lain Kabupaten Bandung. Banjir di Jalan Kamasan (Banjaran - Soreang);  tanah longsor di Desa Mekarsari, Pasirjambu; angin kencang di Desa Bojong Malaka dan Rancamanyar. Satu laporan lagi dari Kabupaten Purwakarta, tanah longsor di Desa/Kecamatan Wanayasa. Sementara di Kabupaten Garut dilaporkan tanah longsor di Desa Girimukti, Kecamatan Pamulihan. 

“Dari semua bencana yang dilaporkan alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ungkap Supriyatno. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya